Bab 1
Di hari pernikahan putraku, suamiku mengusirku dari kursi utama dan duduk di kursi undangan paling belakang.
"Liana nggak menikah seumur hidup dan nggak punya anak karena aku."
"Liana cuma mau mewujudkan mimpinya menjadi seorang ibu, hari ini saja. Apa kamu nggak bisa membiarkannya? Kenapa hari ini mesti ribut-ribut?"
Aku menoleh ke arah putraku, berharap dia akan menghentikan kekonyolan ini.
Akan tetapi, putraku malah berkata, "Itu benar, Bu. Aku sudah memanggilmu Ibu selama 20 tahun. Cuma hari ini saja aku akan memanggil Bibi Liana."
"Aku cuma nggak akan ngasih teh ke Ibu. Jadi, bisakah Ibu nggak terlalu mempermasalahkan hal ini?"
Menghadapi ayah dan putranya yang kompak ini ….
Pada titik ini, tiba-tiba saja aku merasa jika 25 tahun terakhir ini hanyalah sebuah lelucon.
Di hari pernikahan putraku, suamiku mengusirku dari kursi utama dan duduk di kursi undangan paling belakang.
"Liana nggak menikah seumur hidup dan nggak punya anak karena aku."
"Liana cuma mau mewujudkan mimpinya menjadi seorang ibu, hari ini saja. Apa kamu nggak bisa membiarkannya? Kenapa hari ini mesti ribut-ribut?"
Aku menoleh ke arah putraku, berharap dia akan menghentikan kekonyolan ini.
Akan tetapi, putraku malah berkata, "Itu benar, Bu. Aku sudah memanggilmu Ibu selama 20 tahun. Cuma hari ini saja aku akan memanggil Bibi Liana."
"Aku cuma nggak akan ngasih teh ke Ibu. Jadi, bisakah Ibu nggak terlalu mempermasalahkan hal ini?"
Menghadapi ayah dan putranya yang kompak ini ….
Pada titik ini, tiba-tiba saja aku merasa jika 25 tahun terakhir ini hanyalah sebuah lelucon.
…
Setelah lelucon itu, pernikahan pun berlangsung seperti biasa.
Hanya saja, aku yang semula duduk di tempat utama, yang mewakili posisiku sebagai Ibu, ditendang dan digantikan oleh orang lain untuk duduk di kursi tersebut.
Di atas panggung, pembawa acara dengan penuh semangat menceritakan kisah cinta putraku dan menantuku.
Jimmy Zulfikar dan Liana Wendar duduk di kursi yang mewakili "ayah" dan "ibu". Mereka mendengarkan dengan senyuman di wajah mereka dan saling melirik satu sama lain dari waktu ke waktu.
Mata Liana berkaca-kaca dan dia menggenggam tangan Jimmy erat-erat.
"Jimmy, senang sekali anak kita menikah."
Jimmy sudah menduduki posisi tinggi selama bertahun-tahun. Dia mampu menyembunyikan kegembiraan ataupun kemarahan di wajahnya.
Namun, pada titik ini, tatapan mata Jimmy yang tertuju pada Liana dipenuhi cinta yang begitu kuat, yang tidak bisa disembunyikannya.
Seakan-akan bukan Ryan Zulfikar dan menantuku yang menikah hari ini, melainkan mereka berdua.
Jimmy pun buru-buru menjawab, "Ya, tanpa sadar Ryan sudah tumbuh menjadi seorang pria.
"Liana, anak kita sudah dewasa. Mulai sekarang, kamu nggak perlu terlalu mengkhawatirkannya setiap hari."
Liana buru-buru menganggukkan kepalanya, lalu menangis terisak-isak.
Aku melihat ke arah panggung. Mereka berdua saling mengaitkan tangan dengan erat. Perasaan sesak yang muncul di dadaku seakan menenggelamkanku.
Setelah menikah selama lebih dari 20 tahun, baru hari ini aku mengetahui jika Jimmy pernah memiliki cinta pertama, yang dipacarinya selama lima tahun.
Aku dan Jimmy menikah karena dijodohkan. Keluargaku sangat ketat dan kurasa aku tidak terlalu mampu untuk mengurus perusahaan.
Oleh karena itu, setelah lulus, aku mengikuti pengaturan keluarga dan menikah melalui perjodohan.
Jimmy adalah orang ketiga yang dijodohkan denganku. Dua orang sebelumnya menganggap aku terlalu membosankan dan tidak menarik. Aku memang cantik, tetapi aku seperti boneka kayu yang tidak memiliki jiwa.
Dua yang pertama, setelah kami bertemu, semuanya berakhir begitu saja. Hanya Jimmy yang tidak menjauhiku. Dia juga membimbingku agar aku mendengarkan suara hatiku sendiri.
Aku belajar melawan, belajar bersosialisasi dan mencoba berbaur dengan banyak orang.
Waktu itu, aku seperti bebek yang hampir tenggelam. Ingin berenang tidak tahu caranya, ingin naik ke daratan tidak punya keberanian.
Jimmy ibarat kapal yang mampu menjadi tumpuan harapan dan hidupku, juga mampu membawaku menjauh dari pantai.
Aku jatuh cinta pada Jimmy secara alami dan menikah dengannya tanpa ada masalah. Kemudian, aku melahirkan Ryan pada tahun berikutnya.
Sejak saat itu, aku tinggal di rumah untuk membantu suamiku dan mendidik anakku. Aku mengurus makanan ayah dan anaknya itu tiga kali sehari dengan sangat cermat dan tidak pernah sekali saja menyerahkan tugas itu pada orang lain.
Namun, semua yang terjadi hari ini seolah memberitahuku jika 20 tahun terakhir hidupku hanyalah sebuah lelucon.
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, berusaha untuk mengalihkan rasa sakit ini.
Akan tetapi, suara canda tawa di sekitarku terdengar jelas dan memaksa masuk ke telingaku.
Aku hanya bisa duduk dengan perasaan mati rasa, mendengarkan dan mencoba terlihat biasa.
Aku tidak bisa protes, tidak bisa memaki dengan marah dan tidak bisa buru-buru naik ke panggung untuk menanyai mereka.
Itu karena hari ini adalah hari pernikahan Ryan.
Di tengah jalannya upacara pernikahan, tibalah sesi menyajikan teh.
Begitu pembawa acara selesai berbicara, Ryan langsung mengambil inisiatif untuk berlutut sambil memegang teh di tangannya.
Suara Ryan terdengar begitu keras, "Bu."
Mata Liana langsung memerah. Dia menangis dan jatuh ke pelukan Jimmy. Sementara itu, semua orang bertepuk tangan dan bersorak.
Bab 2
Aku duduk di antara para tamu undangan dan berusaha sekuat tenaga untuk menekan darah yang mendidih di dalam hatiku.
Dia itu anakku, anak yang kulahirkan dengan separuh nyawaku. Sekarang, dia berlutut di lantai dan memanggil orang lain dengan sebutan ibu.
Ada banyak orang yang hadir di pernikahan hari ini dan banyak orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, karena kekuatan Jimmy untuk menghalangi terlalu besar, maka tidak ada seorang pun yang berani maju untuk membujuknya.
Di atas panggung, Jimmy mengenakan pakaian tradisional berwarna hitam pekat. Meskipun usianya sudah lebih dari 50 tahun, Jimmy tetap terlihat energik, tanpa sedikit pun tanda penuaan di wajahnya.
Liana sepertinya sudah melakukan persiapan untuk hari ini. Dia mengenakan gaun terusan berwarna merah dan selendang berwarna putih beras yang tersampir di bahunya.
Jimmy dan Liana tampak seperti pasangan suami istri yang saling mencintai selama bertahun-tahun.
Di sisi lain, aku mengenakan gaun merah muda dan duduk sendirian di sudut, seperti anjing liar.
Tidak berlebihan untuk mengatakan jika ayam betina tua yang kalah bertarung itu terlihat sedikit memiliki karakter yang kuat dibanding diriku.
Jimmy memeluk erat wanita itu sambil menangis seperti wanita yang juga menangis di dalam pelukannya itu. Rasa sayang di matanya, akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan.
"Liana, jangan menangis. Anak kita sudah dewasa, kamu seharusnya merasa bahagia."
"Kamu ibunya, wajar kalau dia memanggilmu begitu."
Ryan terus mengiakan kata-kata ayahnya dari samping. Bahkan, dia juga menarik menantuku untuk ikut berlutut bersamanya.
Menantuku menjadi agak bingung. Ditambah lagi, dia belum pernah bertemu denganku sebelumnya.
Ryan mendesak menantuku dari samping. Akhirnya, menantuku mengubah panggilannya kepada Liana menjadi "ibu".
Melihat Liana menangis sampai napasnya tersengal-sengal, Jimmy dan Ryan menjadi begitu cemas dan buru-buru melangkah maju untuk menenangkannya.
Jimmy membujuk Liana dengan suara pelan dan tanpa sengaja matanya melirik ke arahku. Mata kami berpapasan. Hanya sesaat saja, Jimmy buru-buru mengalihkan tatapan matanya.
Pada titik itu, aku jelas-jelas melihat kilatan rasa bersalah di mata Jimmy.
Rasa sakit yang begitu menusuk langsung muncul di hatiku.
Jimmy tahu.
Jimmy sebenarnya mengetahui semuanya.
Jimmy memahami semua rasa malu, marah, sakit, dan pergulatan yang kurasakan.
Namun, Jimmy tetap memilih Liana dan melihatku yang susah payah mencari jalan keluar dari dalam rawa, dengan tatapan tak berdaya.
Di atas panggung, Ryan mengambil alih topik pembawa acara. Kemudian, kata demi kata, Ryan menceritakan masa lalu dan masa muda Jimmy juga Liana.
Di akhir pidatonya, tanpa diduga, ujung mata Ryan juga ikut memerah. "Meski ada penyesalan di masa muda, tapi untungnya segala sesuatunya kembali seperti semula."
Penyesalan?
Kembali seperti semula?
Memangnya bagaimana seharusnya semuanya ini sebelumnya?
Apakah aku harus menyerahkan tempatku dan merelakan mereka menjadi keluarga utuh dengan empat orang anggota keluarga?
Pada titik ini, aku benar-benar sedikit menyalahkan pembawa acara, kenapa dia membeli mikrofon yang bagus.
Kenapa aku harus mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ryan?
Aku duduk dengan hampa di kursiku, seakan-akan semua tenagaku sudah terkuras habis.
Aku tidak habis pikir bagaimana aku bisa jadi seperti ini dan bagaimana hidupku bisa berakhir seperti ini?
Aku tidak tahu kapan pernikahan itu selesai dan kapan aku menyadarinya?
Aku sudah berbaring di tempat tidur, sementara yang lain belum kembali. Mereka masih ingin mengadakan tradisi pesta di kamar pengantin.
Ryan tidak rela melepaskan "ibu" barunya, sehingga dia menyeret Liana ke kamar pengantin bersamanya.
Selama semua ini berlangsung, Jimmy terus meneleponku beberapa kali. Melihatku tidak menjawab teleponnya, Jimmy pun mengirimkan beberapa pesan kepadaku secara berturut-turut.
Dari awal yang awalnya bertanya lalu menyalahkan, pada akhirnya Jimmy menimpakan semua kesalahan kepadaku.
"Kapan kamu pergi? Kenapa nggak bilang-bilang?"
"Hari ini, hari pernikahan putramu. Haruskah kamu mempermalukan semua orang hari ini? Kamu nggak ngasih seserahan untuk menantumu, sampai-sampai Liana-lah yang menggantikanmu."
"Sandra, kamu itu sudah tua. Bisakah kamu berhenti marah-marah? Aku sudah nggak punya lagi kesabaran untuk membujukmu."
"Aku sangat kecewa padamu."
Ryan sendiri sama sekali tidak meneleponku, seakan-akan aku ini benar-benar tidak ada.
Kurasa Ryan masih menungguku mengambil inisiatif untuk menemuinya, sama seperti sebelumnya. Tidak peduli siapa yang salah dan apakah itu kesalahan besar atau kecil …
Semuanya selalu menjadi kesalahanku.
Padahal, jelas-jelas sebelum berusia tiga tahun, Ryan sangat bergantung padaku dan memanggilku "Ibu" dengan manis.
Ketika Ryan memegang makanan enak, gigitan pertama pasti akan selalu diberikan kepadaku. Saat aku lelah, Ryan akan merangkak ke pangkuanku.
Dengan tangan kecilnya yang kikuk itu, Ryan akan memijat kepalaku.
Dibandingkan dengan Jimmy yang tahu betul hal itu tidak bisa dilakukan, tetapi tetap melakukannya, Ryan-lah yang paling membuatku sedih dan tidak bisa menerimanya.
Bab 3
Ketika aku bangun keesokan harinya, aku secara otomatis mengulurkan tangan untuk meraba tempat di sebelahku dan ternyata memang dingin.
Aku berjalan keluar kamar. Sandal masih di posisi semula dan air dalam termos di atas meja masih penuh.
Butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari jika Jimmy tidak pulang semalam.
Jari-jariku gemetar tak terkendali, saat aku mengeluarkan ponselku. Kemudian, aku merasa sedih saat menyadari satu hal …
Aku tidak punya keberanian untuk menelepon dan bertanya, seperti di pesta pernikahan kemarin.
Aku bahkan tidak bisa membantah sepatah kata pun.
Selama 25 tahun, Jimmy berhasil menjinakkanku sepenuhnya. Dari yang sebelumnya tidak menarik dan membosankan, menjadi begitu tunduk dan tidak tahu cara untuk melawan.
Ponselku tergelincir. Tangan dan kakiku tiba-tiba menjadi dingin. Kemudian, aku duduk di sofa dengan tatapan kosong, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan tenang.
Aku duduk di sana sepanjang hari sampai pintu dibuka pada pukul enam sore.
Aku menggerakkan kakiku yang mati rasa dan menatap orang yang berdiri di pintu masuk.
Orang itu bukan Jimmy.
Liana tersenyum lembut kepadaku. "Maafkan aku. Jimmy memintaku kembali mengambilkan dua setel baju ganti untuknya."
"Oh, ya. Jimmy nggak akan pulang untuk beberapa hari ke depan. Lagi pula, tiga hari lagi Ryan juga akan pulang ke rumah mertuanya."
"Aku dan Jimmy masih sibuk menyiapkan hadiah untuk anak kami. Jadi, kami mungkin nggak bisa memperhatikanmu, hehehe."
Aku mengangkat mataku dan menatap Liana. Liana mengangkat alisnya. Matanya memancarkan tantangan dan kebanggaan.
Setelah berkata seperti itu, Liana langsung berjalan menuju kamar tidur. Dia membuka lemari dan mengeluarkan beberapa setel baju yang biasanya sering dipakai oleh Jimmy.
Padahal, ini jelas-jelas pertama kalinya Liana pergi ke rumah ini. Akan tetapi, Liana bisa langsung menemukan lemari di mana pakaian Jimmy berada dan mengemasnya dengan rapi.
Aku memperhatikan gerak-gerik Liana dan bertanya-tanya di dalam hati apakah Liana sudah pernah datang ke rumah ini sebelumnya, saat aku tidak berada di rumah setengah tahun yang lalu.
Itulah sebabnya Liana sangat akrab dengan segala sesuatu yang ada di rumah ini dan gerakannya juga sangat terampil. Seakan-akan, Liana sudah berulang kali melakukannya.
Setelah selesai mengemasi semuanya, Liana tidak pergi. Dia malah berbalik dan duduk di sofa, di seberangku.
Suara lembut Liana menyiratkan sedikit penyesalan. "Izinkan aku menceritakan tentang diriku dan Jimmy."
"Kami sudah saling kenal sejak SMA dan sudah bersama selama lima tahun penuh sampai kami lulus kuliah."
"Kalau dulu kamu nggak datang tiba-tiba dan nggak mau dijodohkan dengannya, mungkin yang sekarang menjadi istri Jimmy itu adalah aku."
Aku mengangkat alisku dan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata, hubungan kalian selama lima tahun adalah sesuatu yang bisa kuhancurkan dengan bersedia dijodohkan dengannya."
"Sandra, aku dan Jimmy sudah saling merindukan selama 25 tahun ini. Sekarang, kami berdua tengah melakukan yang terbaik untuk mengembalikan cinta yang hilang itu."
"Jangan khawatir. Aku nggak mencoba untuk dengan sengaja mengganggu pernikahan kalian yang biasa-biasa saja itu. Kami cuma ingin mendapatkan kembali perasaan yang pernah kami miliki. Bagaimanapun, aku dan Jimmy sudah makin tua. Kalau kami nggak melakukan sesuatu untuk itu, kami akan menjadi makin tua."
"Karena kamu menyukai Jimmy, kamu pasti ingin dia bahagia, 'kan?"
Aku mendengarkan Liana berbicara. Meskipun sudah menyiapkan mental untuk hal itu, tetap saja dadaku terasa panas bagaikan api yang berkobar. Rasanya benar-benar sakit sampai-sampai aku ingin membungkuk dan meringkuk.
Pada titik ini, aku benar-benar ingin melompat dan menampar Liana, juga Jimmy.
Kalian ingin mengembalikan lima tahun yang sudah terlewat, lalu bagaimana dengan diriku?
Yang hilang dariku bukan hanya sehari semalam, melainkan 25 tahun.
Hari sudah larut dan aku duduk sendirian di sofa sepanjang malam.
Di masa lalu, aku mengira malam itu sangat singkat. Langit akan menjadi terang segera setelah aku memejamkan mata.
Namun, ternyata malam itu sebenarnya sangat panjang. Begitu panjangnya, sehingga memberiku cukup waktu untuk bangun dan bahkan untuk mengemasi semua barang-barangku.
Aku menelepon perusahaan yang mengurusi pindah rumah dan pindah ke sebuah apartemen kecil atas namaku. Tempat itu tidak besar, tetapi cukup untuk kutinggali.
Aku tidak memberi tahu Jimmy mengenai perceraian. Aku hanya meletakkan surat perjanjian cerai di tempat yang paling terlihat di rumah.