Bab 1
Di perjamuan keluarga, Ibu mengeluarkan beberapa foto pria dan bertanya siapa yang ingin kujadikan pasangan dalam pernikahan politik ini.
Di kehidupan ini, aku tak lagi memilih Samuel. Sebagai gantinya, aku mengeluarkan sebuah foto dari dalam tas dan menyerahkannya padanya.
Di foto itu bukan Samuel Gusmawan, melainkan paman kecilnya Jeffrey Gusmawan, penguasa sejati Keluarga Gusmawan saat ini.
Ibu menatapku dengan penuh keterkejutan. Bagaimana tidak? Aku telah mengejar Samuel selama bertahun-tahun.
Tapi yang Ibu tak tahu, di kehidupan sebelumnya, setelah aku menikah dengan Samuel, dia hampir tak pernah pulang ke rumah.
Aku selalu mengira itu karena pekerjaannya yang terlalu sibuk. Setiap kali ada yang bertanya, aku selalu menyalahkan diri sendiri, seolah-olah semua itu adalah kesalahanku.
Sampai di hari peringatan pernikahan kami yang ke-20, aku tak sengaja menjatuhkan kotak yang selama ini terkunci rapat di dalam lemari.
Saat itulah aku menyadari, sejak awal hingga akhir, orang yang ia cintai adalah adikku sendiri.
Ia tidak pulang bukan karena sibuk, melainkan karena ia tak ingin melihatku.
Namun di hari pernikahan, saat aku menyerahkan cincin kawin pada Jeffrey, Samuel menjadi gila.
Kabar perjodohan itu baru tersebar sehari, dan aku sudah bertemu dengan Samuel.
Teman-temannya yang sedang mengobrol langsung melihatku dan sengaja berseru keras memanggil Samuel.
"Samuel, tunangan kecilmu datang!"
Sekejap, semua perhatian tertuju padaku dan dirinya.
Samuel mengangkat alisnya, menatapku dengan malas dan jelas tak sabar.
"Mitha, aku belum sempat cari masalah sama kau, tapi kau malah datang duluan."
"Tanpa persetujuanku, kau biarkan Keluarga Senjaya dan Keluarga Gusmawan menjodohkan kita! Kau nggak malu, huh?"
Aku terpaku mendengar ucapannya.
Sial, aku lupa kalau paman kecil Samuel juga bermarga Gusmawan.
Meskipun aku sudah mempersiapkan diri, tatapan jijiknya tetap saja membuat napasku tersendat.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk tetap tenang.
"Orang yang akan kunikahi bukan kau."
Begitu kata-kataku meluncur, orang-orang yang tadi bicara langsung tertawa sampai keluar air mata.
Mereka menepuk bahu Samuel sambil menahan tawa.
"Samuel, tunangan kecilmu ini kocak banget."
"Cepat deh, kasih tahu dia. Jangan pakai alasan jadul kayak gitu, nanti malah jadi bahan lelucon."
Wajah Samuel langsung menggelap karena ditertawakan, amarahnya semakin membara.
"Mitha! Kau udah cukup bikin ribut belum?!"
"Kau tiap hari ribut mau menikah denganku, sekarang malah main tarik ulur? Jijik banget!"
Dia menatapku dari atas, sorot matanya penuh penghinaan. Lalu, tiba-tiba ia tertawa pelan dan mendekat ke telingaku, suaranya rendah dan dingin.
"Mitha, aku akan memberimu status yang kau inginkan."
"Tapi aku tak akan pernah menikahimu secara sah. Jangan pernah bermimpi aku akan mengakuimu."
Ekspresiku berubah sejenak, keterkejutan melintas di wajahku.
Di kehidupan sebelumnya, dia tak pernah mengatakan hal seperti ini.
Jangan-jangan...?
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku melihat kilatan kegembiraan di mata Samuel.
Aku mengikuti arah pandangannya, lalu menyadari penyebabnya yaitu adik perempuanku, Melly.
Begitu melihat aku berdiri di samping Samuel, matanya langsung memerah.
"Kak Samuel, aku sudah dengar semuanya… Aku… aku doakan kalian bahagia…"
Belum selesai bicara, dia sudah menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu.
Samuel yang melihatnya langsung menatapku dengan penuh kebencian.
"Mitha, ini semua salah kau! Kau benar-benar menjijikkan!"
Saat aku tersadar dari keterkejutan, dia sudah berlari menghampiri Melly dan memeluknya erat.
Bab 2
Mereka berdua saling berpelukan tanpa peduli dengan siapa pun di sekitar, bahkan pada akhirnya, mereka malah berciuman di depan umum.
Samuel merangkul pinggang rampingnya, sementara Melly dengan alami menggamit lengannya.
Jika dibandingkan denganku, mereka jauh lebih terlihat seperti sepasang kekasih.
Orang-orang di sekitar menonton dengan ekspresi penuh hiburan, bahkan ada yang dengan suara pelan namun sengaja memastikan aku mendengar :
"Kalau aku jadi Mitha sih, mending cari lubang buat sembunyi."
"Tunangan sendiri malah main dengan adik kandungnya, tapi dia masih punya muka berdiri di sini."
Aku tahu mereka semua sedang menunggu dan menantikan reaksiku.
Mereka ingin melihat apakah aku akan bertingkah seperti dulu, kehilangan akal, berteriak, dan membuat keributan, hanya demi mendapatkan sedikit perhatian darinya.
Samuel juga menatap ke arahku saat itu.
Melihatku tetap tenang tanpa ekspresi, dia mendengus puas, seolah merasa telah menang.
Dia baru saja hendak membuka mulut, tapi aku tak memberinya kesempatan.
Aku berbalik dan langsung berjalan keluar pintu.
Begitu berada di luar, aku menelepon sopir. Baru saja bersiap untuk pergi, sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di sampingku.
Jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan wajah Samuel.
"Masuk."
Aku baru saja ingin menolak, tapi pandanganku langsung tertuju pada sosok di kursi penumpang, yaitu Melly.
Samuel juga menyadari ke mana aku melihat, lalu mengernyit dan berkata dengan nada tak sabar.
"Kursi depan bukan tempat yang seharusnya kau duduki."
Aku diam, tak menanggapi.
Sebaliknya, Melly langsung berkaca-kaca lagi.
"Kakak, Kak Samuel cuma khawatir padaku…"
"Maaf ya, Kakak, aku akan turun sekarang…"
Meskipun berkata penuh rasa bersalah, dia sama sekali tidak bergerak.
Samuel menatapnya dengan penuh kasih sayang, menggenggam tangannya erat, lalu melirikku sekilas dengan ekspresi dingin.
"Jangan ganggu Melly. Kalau nggak mau naik, pergi saja."
Aku tak berkata apa-apa, hanya berjalan tenang menuju pintu belakang mobil.
Melihat aku tetap diam, Melly seolah lupa keberadaanku dan dengan lembut mengusap wajah Samuel dengan jemarinya yang ramping.
"Kak Samuel, kau suka nggak sama wangi hand cream ini?"
Ujung jarinya berulang kali menyapu pipinya, sementara aku bisa mendengar jelas suara Samuel menelan ludah.
Napas keduanya semakin berat, tatapan mereka saling bertaut, mendekat perlahan.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan...
"BAM!"
Suara pintu tertutup menggema, membuat Samuel tersentak dan langsung menoleh ke bangku belakang.
Namun, yang dia lihat hanyalah tempat duduk kosong.
Barulah saat itu dia sadar, suara tadi bukan karena sesuatu yang jatuh, melainkan karena aku yang menutup pintu mobil dan pergi.
Perasaan gelisah tiba-tiba muncul di hatinya.
Dia buru-buru turun dari mobil dan memanggilku.
"Mau ke mana kau?"
Aku menatapnya sejenak sebelum perlahan mengangkat tangan, menunjuk ke arah mobil yang baru saja berhenti di depanku.
"Nggak perlu repot-repot. Mobilku sudah datang."
Samuel sepertinya menyadari ada yang berbeda dariku, tapi dia terlalu percaya diri. Baginya, ini hanyalah cara baru untuk menarik perhatiannya.
Dia meraih lenganku, lalu mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan memaksakan benda itu ke tanganku.
"Jangan main-main lagi dengan trik murahan seperti ini."
"Kau adalah istriku, meskipun hanya dalam nama. Tapi yang kau permalukan tetaplah aku."
Aku menatapnya dengan tenang dan bertanya pelan, "Kalau begitu, siapa istri yang sebenarnya? Melly?"
Mendengar pertanyaanku, Samuel terdiam sejenak. Rasa marah berkecamuk di matanya, tapi bersamaan dengan itu, ada pula rasa puas yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Hmph, sebaiknya tutup mulutmu."
"Melly berbeda darimu. Dia lembut, baik hati, polos, bukan perempuan murahan sepertimu."
"Kalau kau berani mengadukan atau menyakitinya, tunggu saja. Aku pastikan kau akan jadi bahan tertawaan di hari pernikahan kita!"
Mendengar ucapannya, aku nyaris tertawa.
Dia tak ingin menjadi orang jahat, tapi juga tak bisa melepaskan Melly.
Jadi, dia mendorong semua kesalahan padaku, seolah akulah penjahat yang sebenarnya.
Aku tak menggubrisnya lagi. Tanpa sepatah kata pun, aku berbalik dan masuk ke mobilku sendiri.
Di perjalanan pulang, aku membuka ponsel dan tanpa sengaja melihat unggahan terbaru Melly.
Di foto itu, sebuah cincin berlian merah muda berkilauan dalam kegelapan.
Aku mengenali berlian merah muda hampir sepuluh karat itu.
Itu adalah batu permata yang dilelang beberapa waktu lalu dan dibeli oleh seseorang dengan harga lebih dari dua miliar.
Ternyata, pembeli misterius yang menawar berlian itu adalah Samuel.
Aku teringat cincin kecil dengan potongan berlian pecahan yang baru saja ia berikan padaku.
Aku mengeluarkannya, memperhatikannya dengan seksama.
Tentu saja, cincin yang ia berikan padaku hanyalah hadiah bonus dari rumah lelang setelah ia membeli berlian merah muda itu.
Aku tertawa dingin, lalu memasukkan cincin itu kembali ke dalam sakuku.
Saat itu, ponselku berdering.
Aku melihat nama yang tertera di layar dan menjawab panggilan itu.
"Kak Samuel, kalau kau menikah denganku... bagaimana dengan Kak Mitha?"
Suara Melly terdengar lembut, manja, dengan sedikit nada cemas yang dibuat-buat.
"Melly, satu-satunya yang aku cintai hanyalah kau. Dia nggak pantas."
Tak lama kemudian, terdengar suara kecupan yang menjijikkan di telepon, seolah mereka sengaja ingin membuatku mendengar semuanya.
Aku mengerutkan kening dengan jijik dan langsung menutup panggilan itu.
Tak sampai beberapa detik, sebuah pesan masuk dari Melly.
"Kak, yang nggak dicintai itu adalah selingkuhan."
"Kau sudah cukup lama menjadi 'Nyonya Gusmawan'. Sekarang, giliran aku, kan?"
Bab 3
Di kehidupan sebelumnya, Melly dan Samuel memang memiliki hubungan, tetapi mereka tidak berani menunjukkannya secara terang-terangan.
Mereka hanya bisa diam-diam bermain trik kotor di belakangku.
Tak heran kali ini, hanya dalam waktu dua atau tiga hari, hampir semua orang sudah mengetahui hubungan mereka secara gamblang.
Pikiranku mendingin.
Aku teringat kehidupan masa lalu, setelah menikah dengan Samuel, bisnis Grup Gusmawan melejit pesat, hingga akhirnya masuk dalam daftar Forbes.
Para tetua Keluarga Gusmawan sangat puas denganku. Mereka percaya aku membawa keberuntungan bagi keluarga.
Meskipun Samuel selalu bersikap dingin, aku masih merasakan sedikit kebahagiaan karena kehangatan dari para tetua Keluarga Gusmawan.
Hingga hari itu tiba.
Hari ketika kotak itu hancur.
Hari ketika seluruh kepalsuan berantakan.
Saat itu, pintu kamarku terbuka.
Ibu berdiri di sana, wajahnya tampak ragu sebelum akhirnya berbicara,
"Jeffrey akan segera pulang."
Tanganku yang sedang sibuk seketika berhenti.
Aku tak langsung menanggapi.
Ibu terlihat ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi akhirnya ia hanya menghela napas dan pergi.
Aku tak percaya kalau di kehidupan sebelumnya, ibu benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
Namun, dia tak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang itu.
Para tetua Keluarga Gusmawan memang menyukaiku, tetapi mereka tidak benar-benar peduli padaku.
Kalau mereka peduli, mereka tak akan membantu Samuel menutupi semuanya.
Satu-satunya orang yang berbeda adalah Jeffrey.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah satu-satunya orang di Keluarga Gusmawan yang tidak cocok dengan mereka.
Pada akhirnya, dia memilih menetap di luar negeri dan tak pernah menikah seumur hidupnya.
Aku tak terlalu mengingat banyak hal tentangnya.
Yang kuingat hanyalah dia sering menjagaku, bahkan beberapa kali muncul untuk menegur Samuel agar bersikap lebih baik padaku.
Mungkin karena itulah aku memilih menikah dengannya. Aku berpikir, kalau itu dia, setidaknya masih lebih baik daripada orang asing lainnya.
Sejujurnya, aku sendiri tak terlalu yakin dengan keputusan ini.
Sebagai pengendali sebenarnya dari Keluarga Gusmawan, rasanya mustahil dia akan menerima pernikahan ini begitu saja.
Tapi kenyataannya jauh lebih mudah dari yang kubayangkan.
Menurut Ibu, Jeffrey hanya terdiam sesaat sebelum akhirnya menyetujui pernikahan ini.
Keesokan harinya, aku datang lebih awal ke kantor, bersiap menyelesaikan proyek yang sedang kukerjakan.
Proyek ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk Jeffrey.
Klien dalam proyek ini adalah Grup Mito, perusahaan elektronik terbesar di negeri ini.
Jika berhasil mendapatkan kerja sama ini, maka menembus tiga besar di Koppenasta bukan lagi sekadar impian.
Aku sudah mengerjakan proyek ini cukup lama. Awalnya, proyek ini memang kupersiapkan untuk Samuel.
Karena itu, setiap detailnya dirancang berdasarkan kondisi Grup Gusmawan.
Tapi sekarang, tunanganku adalah Jeffrey.
Jadi, sudah seharusnya proyek ini diubah agar sesuai dengan perusahaannya.
Aku begadang beberapa malam untuk menyelesaikannya, dan akhirnya proyek ini rampung juga.
Mengusap sudut mataku yang terasa perih, aku turun ke lantai bawah untuk membeli secangkir kopi.
Saat aku kembali ke atas untuk memperbaiki beberapa detail dalam kontrak, aku justru mendapati bahwa file proyek di komputernya telah menghilang.
Panik, aku segera mengeluarkan ponsel dan memeriksa rekaman CCTV.
Di layar, terlihat seseorang mengenakan masker dan topi, sama sekali tidak menunjukkan wajahnya.
Namun, cincin berlian merah muda di tangannya langsung mengungkap siapa dia sebenarnya.
Tubuhku gemetar karena marah, tanpa pikir panjang aku langsung menerobos masuk ke dalam kantor Melly.
Begitu pintu terbuka, pemandangan menjijikkan langsung menyambutku.
Samuel sedang duduk di atas meja kerja, dengan Melly dalam pelukannya.
Bibir mereka baru saja berpisah, dan bahkan ada sisa jejak air liur yang masih tersambung di antara mereka.
Aku tak peduli lagi dengan citraku. Aku mencengkeram pergelangan tangan Melly dan berteriak marah.
"Melly! Siapa yang memberi kau izin menyentuh kompu..."
Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, Samuel sudah mendorongku dengan kasar.
Dia menatapku dengan penuh kemarahan. "Mitha, kau sakit jiwa, ya?!"
Sementara itu, Melly pura-pura ketakutan, berlindung di belakang punggung Samuel.
Dengan suara bergetar, dia menangis tersedu-sedu. "Kakak, maaf... Aku nggak sengaja menghapusnya..."
"Maaf, maaf... Aku akan berlutut meminta maaf padamu, tolong maafkan aku..."
Belum selesai berbicara, dia mulai melemas, seolah-olah benar-benar akan berlutut di hadapanku.
Samuel yang tak tega melihatnya seperti itu langsung menariknya ke dalam pelukannya, menghentikan gerakannya.
Tatapannya tajam menusuk ke arahku. "Mitha, kau ribut apa lagi sekarang?!"
Aku mengepalkan tangan, menahan gejolak emosi yang hampir meledak.
"Itu adalah hadiah pernikahan untuk tunanganku!"
Aku berteriak keras, kemarahanku nyaris melahap sisa-sisa akal sehat yang kumiliki.
Samuel menyeringai sinis. "Tunangamu itu bukan aku?"
"Niat baikmu sudah kuterima, puas sekarang?"
"Aku benar-benar nggak ngerti kenapa kau harus membuat keributan seperti ini."
Mataku jatuh pada komputer Melly, di layarnya masih ada laporan yang baru setengah jadi.
Tanpa ragu, aku meraih gelas di meja dan menuangkan air ke atasnya.
"Bzzzzt..." Komputer itu langsung mengeluarkan asap hitam, disertai suara percikan listrik.
Melly langsung melompat kaget, mencengkeram lengan Samuel sambil menangis panik.
"Kak Samuel! Laporanku!"
Aku tertawa dingin. "Hanya laporan biasa, aku juga nggak ngerti kenapa kau harus membuat keributan seperti ini."
Samuel menatapku tajam, seolah merasa ada yang tidak beres denganku.
Saat aku berbalik hendak pergi, dia tiba-tiba mengulurkan tangan ingin menahanku.
Namun, Melly lebih cepat menarik ujung bajunya, wajahnya tampak kesakitan.
"Kak Samuel, aku... aku seperti kena air panas… Sakit sekali…"
Lalu, dengan suara lemah dan penuh rasa bersalah, dia berbisik, "Maaf… Semua salahku… Pergilah cari Kak Mitha…"
Samuel hanya terdiam sejenak, lalu tangannya yang tadi sempat terulur padaku pun jatuh kembali ke sisinya.
"Ini bukan salahmu. Mitha yang cari gara-gara sendiri."