Bab 1
Aku hanyalah seorang mahasiswi yang tidak sanggup membayar biaya kuliah.
Selama lima tahun, aku juga menjadi kekasih rahasia seorang mafia, Denis Sanggu.
Secara umum, aku adalah restorator seni pribadinya.
Secara pribadi, dia menghabiskan malamnya meniduriku, memelukku erat dan menciumku hingga aku kehabisan napas.
Lalu keluarganya mengatur pertunangan untuknya.
Denis bertunangan dengan Bella Rosana, seorang putri dari keluarga mafia saingan.
Di pesta pertunangan mereka, Bella menusuk punggung tanganku dengan pecahan kaca.
Tapi Denis malah memaksaku meminta maaf kepada Bella karena telah membuat keributan.
Aku hanya bisa menundukkan kepala pada Bella sembari menahan air mata.
Saat Bella kalah taruhan dan harus bermain Rolet Rusia, satu peluru, enam ruang peluru, Denis memaksaku menggantikan Bella.
Tanganku gemetar saat aku mengangkat pistol ke kepalaku.
"Kamu pernah menyelamatkan hidupku..." kataku pada Denis. "Sekarang kamu bisa mengambilnya kembali."
Saat aku lenyap dari dunianya, Denis yang selalu mengendalikan segalanya... benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Selama lima tahun, aku menjalani dua peran sekaligus dalam hidup Denis. Restorator seni dan rahasianya, yaitu kekasihnya.
Lalu keluarga Denis memaksanya bertunangan. Pada malam pesta itu, aku memutuskan untuk meninggalkan pria yang seharusnya tidak pernah menjadi milikku.
"Aku mengundurkan diri."
Aku menyerahkan surat pengunduran diriku kepada Anton, kepala pelayan Denis.
"Kamu yakin?" Anton tampak terkejut. "Pak Denis selalu puas dengan hasil kerjamu."
Puas?
Aku hampir tertawa.
Dia itu Denis Sanggu, kepala keluarga kriminal paling berkuasa di Nawa Yok.
Sedangkan aku hanyalah gadis yang pendidikannya dibiayai Denis, restorator seni yang bekerja untuk melunasi utang, sebuah hukuman seumur hidup.
Kami berasal dari dua dunia yang berbeda.
"Aku sudah ambil keputusan." Suaraku lebih tenang dari yang kukira. "Utangku sudah lunas, sudah saatnya aku pergi."
"Ini memerlukan persetujuan pribadi dari Pak Denis."
"Kalau begitu, kasih tahu dia." Aku berbalik ke arah pintu. "Aku nggak bisa menunggu lama."
Saat melangkah keluar dari kediaman itu, aku menyentuh kalung di leherku, gantungan kecil berbentuk pisau palet.
Murah, tetapi memiliki makna.
Aku membelinya untuk diriku sendiri saat lulus dari sekolah seni.
Itu adalah pengingat akan kehidupan yang seharusnya aku miliki, yaitu kehidupan yang normal.
Denis menemukanku pada malam hujan sepuluh tahun lalu, dia juga orang yang membiayai pendidikanku.
Aku tidak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu yang lebih di antara kami.
Saat itu, aku hanya merasakan kekaguman dan rasa terima kasih. Setelah lulus, aku setuju untuk bekerja padanya demi membalas "kebaikan" Denis yang luar biasa.
Aku tahu aku tidak akan pernah pantas berada di dunia Denis.
Namun, suatu malam, Denis mabuk. Bibirnya menyentuh kulitku, dan aku sama sekali tidak berdaya untuk menolak.
Lima tahun kemudian, aku harus menghadapi kenyataan, aku jatuh cinta padanya.
Namun, aku harus pergi.
Aku kembali ke apartemen dan dengan hati-hati meletakkan lukisan minyak terakhir yang telah dipulihkan ke dalam wadah pelindungnya.
Saat aku hendak berkemas, sebuah pesan teks dari Denis masuk.
[Kamu sudah janji akan datang ke pesta pertunanganku. Aku sudah mengirimkan gaun untukmu.]
Terdengar ketukan di pintu. Salah satu anak buah Denis berdiri di sana sambil membawa gaun satin putih.
"Pak Denis sedang menunggumu, Nona."
Apa Denis ingin aku menyaksikannya berbahagia bersama wanita lain?
Aku menahan air mata dan berganti pakaian dengan gaun itu.
Hubungan ini membutuhkan akhir, ini butuh penyelesaian.
Mobil berhenti di lokasi acara. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar.
Menara sampanye berkilauan di bawah lampu kristal, para tamu dengan pakaian mahal tertawa sembari mengobrol.
Setiap lukisan di dinding telah aku sentuh, aku pulihkan, dan aku hidupkan kembali.
Namun, malam ini, aku hanyalah orang luar.
Pandanganku menyapu ruangan untuk mencari wajah yang kukenal.
Lalu, aku melihatnya.
Denis berdiri di tengah ruangan, tuxedo hitamnya membuatnya tampak lebih tinggi dan berwibawa.
Lengannya melingkari tubuh seorang wanita cantik, Bella Rosana, tunangannya.
Bella mengenakan gaun merah tua, seperti mawar yang sedang mekar.
Dadaku terasa sesak.
Aku teringat pada malam tiga bulan lalu saat Denis memelukku.
Dia bergerak dalam diriku, keras dan cepat, lalu mencium air mataku.
Denis bilang tidak ingin menikahi Bella, keluarganya yang memaksa. Dia ingin bersamaku selamanya.
Keesokan paginya, dia bertingkah seolah tidak ada yang terjadi dan mengumumkan pertunangannya.
"Lihat siapa yang datang." Sebuah suara tajam terdengar dari belakangku.
Aku berbalik. Bella berjalan ke arahku dengan segelas anggur merah, senyum sosial yang sempurna terpampang di wajahnya.
"Elian, kamu benaran... menawan malam ini." Suaranya manis tapi menusuk.
"Terima kasih," jawabku singkat.
"Putih cocok untukmu," katanya sambil berhenti di depanku, kilatan kejam di matanya. "Warna murni untuk pekerjaan yang murni, bukan? Memulihkan lukisan tua. Begitu... elegan."
Aku bisa merasakan semua mata di ruangan itu tertuju pada kami.
"Bella, aku datang cuma buat... "
"Datang buat apa?" Bella memotong ucapanku, suaranya tiba-tiba melengking. "Buat merusak pesta pertunanganku? Buat ingatkan tunanganku kalau dia masih punya simpanan?"
Udara membeku.
Semua percakapan berhenti.
Semua orang menatap.
Simpanan...
Kata itu menusuk hatiku bak pisau.
"Aku nggak... "
Tiba-tiba Bella menyiramkan anggurnya padaku.
Cairan dingin itu membasahi satin putih, membentuk noda merah seperti bunga darah di dadaku.
Hening total.
"Ya Tuhan, aku minta maaf." Bella terkesiap, menutup mulutnya dengan lebay penuh drama. "Tanganku terpeleset, sama seperti bagaimana beberapa orang cenderung 'terpeleset' ke tempat yang nggak seharusnya mereka tempati, seperti ranjangnya Denis."
Orang-orang mulai berbisik.
Aku bisa mendengar kata-kata "simpanannya Denis" dan "membayar utang dengan tubuhnya."
Aku hanya berdiri di sana, merasakan tetesan anggur dari gaunku jatuh ke lantai.
Saat itu juga, kerumunan terbelah.
Denis berjalan mendekat.
Jantungku berdetak kencang.
Apa Denis akan membelaku?
Apakah Denis akan memberi tahu semua orang bahwa aku tidak hanya simpanan, tetapi wanita yang Denis cintai?
Dia berhenti di depan kami, tatapannya beralih antara aku dan Bella.
"Ada apa ini?" Suaranya tenang dan dingin. Kedinginan yang sama seperti di pagi hari dia bangun di sampingku.
"Sayang, aku benaran minta maaf." Bella langsung memeluknya. "Aku cuma ingin menyapa Nona Elian, terus nggak sengaja menabraknya."
Mata Denis, mata yang sama saat menatap mataku di tempat tidur dan membisikkan kata-kata cinta, kini sedingin es.
"Pak Denis." Aku mulai bicara dengan suara gemetar, "Aku bisa jelaskan... "
"Nggak perlu." Dia memotong ucapanku lalu beralih ke kerumunan. Dia berhenti sejenak sembari menatap ruangan yang hening. Lalu dia mengucapkan kata-kata yang menghancurkan sisa hatiku.
"Nona Elian ini karyawanku," katanya dengan suara tenang namun tajam. "Nggak lebih dari itu. Hubungannya dengan keluarga ini murni profesional. Dia nggak ada hak buat ganggu acara malam ini, atau membuat tunanganku marah."
Dunia seakan berputar.
Tatapan matanya begitu dingin, seolah bisa mencabik-cabikku.
Namun, dia sendiri yang menyuruhku datang...
"Satpam." Suara Denis memotong di ruangan itu. "Bawa dia keluar."
Bella tersenyum puas dalam pelukan Denis.
Aku menatap mereka, menatap pria yang sudah kuperingatkan diriku untuk tidak kucintai, tapi pada akhirnya kucintai selama lima tahun yang panjang.
Dia memeluk wanita lain dan pura-pura tidak melihat penghinaan yang menimpaku.
Para satpam mulai berjalan ke arahku.
"Nggak usah repot-repot," kataku sembari menegakkan punggungku. "Aku bisa keluar sendiri."
Aku berbalik dan berjalan pergi.
Di belakangku, aku mendengar suara manis Bella, "Sayang, ayo kita berdansa."
Aku mendorong pintu hingga terbuka dan disambut oleh dinginnya hujan.
Aku berdiri di sana, membiarkan hujan membasuh air mata di wajahku dan bekas guyuran anggur di dadaku.
Sepuluh tahun yang lalu, aku tersandung di jalan, sedangkan mobil Denis menabrakku.
Aku ingat terbaring di aspal basah, hujan mengguyurku, aku siap mati.
Denis berdiri di atasku seperti dewa, penyelamat kelam yang menarikku dari reruntuhan hidupku.
Malam ini, dialah juga yang mendorongku kembali ke dalam api.
Sesampainya di apartemen, aku baru saja berganti pakaian saat ponselku bergetar.
Sebuah pesan teks muncul.
[Jangan rusak pernikahanku dengan Bella, kamu tahu sendiri konsekuensinya. Malam-malam itu cuma kesalahan. Lupakan saja, D.S.]
Aku menatap layar, hatiku membeku.
Sebuah kesalahan?
Semua yang kami miliki hanyalah sebuah kesalahan?
Jariku melayang di atas layar untuk waktu yang lama sebelum akhirnya aku membalas pesan Denis.
[Jangan khawatir, Pak Denis. Aku sudah berhenti mencintaimu.]
Bab 2
Kukira semalam sudah yang terburuk.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, ponselku penuh dengan panggilan.
"Elian, kamu sudah lihat beritanya?" Suara temanku, Sarah, terdengar sangat panik.
Aku membuka ponsel. Sebuah foto beresolusi tinggi menatap balik padaku.
Aku, dengan gaun putih berlumur anggur, berdiri menyedihkan di bawah hujan.
Judul-judul beritanya membuatku mual.
[SIMPANAN DENIS SANGGU DIPERMALUKAN DI PESTA PERTUNANGAN.]
[DARI STUDIO SENI KE RANJANG: MENGULIK SKANDAL DENIS SANGGU.]
Wajahku ada di mana-mana. Diperbesar, dianalisis, dibagikan.
Ponselku berdering lagi.
"Nona Elian Vanka? Ini wartawan dari Nawa Yok, Haja. Aku ingin menanyakan hubunganmu dengan Denis Sanggu... "
Aku menutup telepon.
Telepon lain masuk.
"Kapan kamu dan Pak Denis mulai menjalin hubungan?"
Kututup.
"Menurutmu tindakan Bella Rosana bisa dibenarkan?"
Kututup.
Aku mematikan ponsel dan ambruk di sofa.
Selama lima tahun, kami sangat berhati-hati dan tidak pernah bersentuhan di depan umum.
Dalam semalam, semua itu sia-sia.
Menjelang sore, semua berita itu lenyap.
Setiap artikel, setiap foto, hilang seolah tidak pernah ada.
Aku tahu itu ulah Denis. Dia punya kuasa untuk melenyapkan apa pun yang melukai keluarganya.
Namun, kisah lain cepat mengambil alih.
[DENIS SANGGU DAN TUNANGANNYA BERCIUMAN PANAS DI MOBIL, TANGGAL PERNIKAHAN KIAN DEKAT.]
Foto itu menunjukkan Denis mendorong Bella ke dinding mobil dengan ciuman penuh gairah.
Kaki Bella melingkari pinggang pria itu, roknya tersingkap tinggi.
Tangan Denis menggenggam pinggulnya, menariknya kuat-kuat mendekat.
Mereka saling melahap.
Aku menatap foto itu, seakan ada pisau yang diputar di dadaku.
Kemarin, Denis berkata hubungan kami "murni profesional".
Hari ini, dia malah menempel pada Bella.
Mungkin sejak awal aku cuma mainan, dia tidak peduli pada perasaanku sama sekali.
Ponselku berdering, kini dari Anton.
"Nona Elian, Pak Denis ingin bertemu denganmu sekarang."
Aku ragu. "Aku sudah mengundurkan diri."
"Ini bukan permintaan, Nona." Suara Anton makin tegas. "Mobil sudah di bawah."
Aku tahu aku tidak bisa menolak.
Di dunia Denis, tidak ada yang berhak menolaknya.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah berada di lantai teratas Menara Sanggu.
Kantor pribadi Denis, tempat kami pertama kali tidur.
Jejak samar parfum Bella masih menggantung di meja.
Perutku mual.
Sekretarisnya menuntunku ke pintu kantor, lalu menahanku di luar.
"Tolong tunggu di sini," katanya. "Nona Bella ada di dalam."
Aku berdiri di luar pintu.
Pintu itu tidak tertutup rapat.
Suara mereka terdengar jelas dan tajam.
"Wanita itu masih bekerja untukmu, aku nggak suka." Suara Bella sedingin es. "Denis, aku mau kamu beresin dia sekarang juga, di depanku."
"Dia restorator seni terbaikku." Suara Denis datar.
"Restorator seni?" Bella mencibir. "Apa yang dia pulihkan, Denis? Senimu, atau tubuhmu?"
Keheningan yang panjang.
"Aku bukan orang bodoh, Denis." Suaranya bergetar karena marah. "Tadi malam kamu bikin aku dan keluargaku jadi bahan tertawaan, lalu apa solusimu? Melempar foto kita ke pers? Kamu pikir aku nggak tahu apa yang sebenarnya kamu pikirkan?"
Suara Bella berubah sinis. "Aku paham cara dia menatapmu, dia mencintaimu."
"Itu nggak ada hubungannya denganku."
"Nggak ada hubungannya denganmu?!" Suara Bella melengking. "Lalu kamu gimana, Denis? Kamu ada rasa sama dia? Aku ingin dia disingkirkan, hilang selamanya."
Lagi-lagi hening, keheningan yang panjang.
Lalu jawaban Denis terdengar, tiap kata seperti serpihan es.
"Dia itu aset, nggak lebih."
Sesuatu menghantam hatiku.
Saat itu juga, pintu terbuka.
Bella melangkah keluar dan melihatku berdiri di sana.
Senyum kemenangannya merekah.
"Oh, Elian, kamu di sini?" Suaranya manis, hampir terasa memuakkan. "Kebetulan kau datang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
Dia berjalan ke meja minuman di dekat situ dan sengaja menyenggol sebuah gelas kristal.
PRANG! Pecahan kaca berserakan di lantai.
"Ups, ceroboh sekali aku." Bella berpura-pura terkejut. "Tapi ini yang terbaik. Beberapa hal memang ditakdirkan untuk pecah, 'kan?"
Dia membungkuk dan mengambil pecahan itu. Tangannya melesat, menggores punggung tanganku.
Darah langsung merebak.
"Bella!" seruku.
"Kenapa? Sakit?" cibirnya. "Ini nggak seberapa. Memangnya kamu tahu betapa sakitnya melihat tunanganmu terlibat dengan wanita lain?"
Aku memegang erat tanganku yang berdarah sembari menatap Bella.
"Nggak ada apa-apa antara aku dan Denis... "
"Nggak ada?" Bella memotongku, suaranya nyaring. "Seorang gadis miskin yang nggak mampu sekolah dibiayai sama Denis, yang kemudian dengan sukarela tinggal di sisinya selama lima tahun. Kamu pikir aku bodoh?"
Bella berjalan mendekat dengan tatapan yang ganas.
"Kamu sungguh pikir wajah cantik dan tubuhmu bisa bikin Denis jatuh cinta? Sadarlah, Elian. Kamu cuma mainan yang sudah bikin dia bosan."
"Cukup." Suara Denis terdengar dari dalam kantor.
Dia berjalan keluar, tatapannya menyapu kami.
Keningnya berkerut saat melihat darah di tanganku.
Tapi ekspresinya dengan cepat kembali menjadi dingin.
"Bella, pulanglah. Aku ada urusan kerja yang perlu dibicarakan."
"Kerja?" Bella menatap Denis dengan curiga, nadanya penuh ketidaksenangan. "Singkirkan saja dia selamanya. Denis, pilih dia atau aku."
Denis menatapku, lalu kembali menatap Bella.
"Dia masih punya proyek yang harus diselesaikan," katanya dengan dingin. "Aku nggak bisa biarkan perasaan pribadi mengganggu bisnis."
"Perasaan pribadi?" Suara Bella menjadi berbahaya. "Kamu punya perasaan pribadi buat dia?"
"Bukan itu maksudku," ucap Denis meluruskan. "Aku bicara tentang perasaanmu, Bella. Jangan menuduh sembarangan."
Mata Bella menyipit. "Kamu nggak bisa pecat dia atau kamu nggak mau?"
Bab 3
"Aku kasih kamu tiga hari, singkirkan wanita ini."
Bella menyentak tangannya dari Denis. Tunangan yang manis dan manja itu telah hilang.
Jelas, putri mafia itu tidak punya banyak kesabaran terhadap perselingkuhan calon suaminya.
Bella melangkah pergi dengan sepatu hak tingginya.
Saat melewatiku, tas tangannya menyenggol tanganku yang terluka dengan keras.
Rasa sakit yang tajam menyeruak. Aku menggigit bibirku agar tidak berteriak.
Setelah dia pergi, Denis menutup pintu kantor.
Dia menatapku, matanya kehilangan kehangatan yang dulu kukenal.
"Anton bilang kamu mau mengundurkan diri? Aku nggak setuju, tapi setelah apa yang terjadi hari ini, aku akan kasih kamu dua pilihan."
Dia berjalan ke bar dan menuangkan wiski untuk dirinya sendiri, dia tidak menuangkan untukku.
"Pilihan pertama, kamu bayar ganti rugi pada Keluarga Rosana sebesar 830 miliar atas kerusakan nama baik mereka."
Aku menatap Denis.
"Apa?"
"Skandal tadi malam merusak reputasi kedua keluarga kami," katanya dengan suara yang menakutkan saking tenangnya. "Seseorang harus bertanggung jawab."
"Aku nggak melakukan apa pun!"
"Kehadiranmu di sana adalah kesalahan." Dia menyesap minumannya. "Pilihan kedua, kamu minta maaf di depan umum pada Bella. Kamu akui kalau kamu menggodaku dan bersumpah akan menghilang. Sebagai gantinya, aku akan memindahkanmu ke rumahku di Pantai Barat, kamu bisa lanjut bekerja di sana."
Darahku terasa membeku.
Bekerja?
Denis hanya ingin mengurungku selamanya.
Dia ingin aku minta maaf... menyalahkan semua yang terjadi padaku...
"Kamu gila, Denis?" Suaraku bergetar. "Kamu mau aku minta maaf? Untuk apa? Karena mencintaimu? Kamu yang... "
"Pilih, Elian."
Matanya sempat bergetar sedetik, lalu kembali membeku.
"Kalau aku menolak?"
Dia meletakkan gelas dan berjalan ke arahku.
"Berarti kamu akan kehilangan segalanya. Meski kamu meninggalkanku, aku akan pastikan kamu nggak bisa kerja lagi di negara ini." Dia berhenti tepat di depanku. "Kamu tahu aku sanggup lakukan itu."
Aku menatap pada pria yang kukira kukenal.
"Aku ambil pilihan kedua," kataku sambil mengatupkan gigi. "Tapi ini yang terakhir."
"Rapat keluarga, besok jam 3 sore."
…
Keesokan harinya, aku berdiri di ruang rapat Keluarga Sanggu.
Sekitar belasan pria bersetelan mahal, inti dari keluarga itu duduk mengelilingi meja panjang.
Bella duduk di sisi kanan Denis, dengan senyum kemenangan di wajahnya.
"Tuan-Tuan." Denis berdiri. "Kita berkumpul hari ini untuk menyelesaikan sebuah... kesalahpahaman yang nggak menyenangkan."
Tatapannya bertemu dengan mataku. "Elian, silakan."
Aku menarik napas dalam-dalam dan berdiri.
"Aku... aku ingin minta maaf atas apa yang terjadi." Suaraku nyaris berbisik. "Ini salahku, aku seharusnya nggak ada di sana."
"Lebih keras, biar semua orang dengar," perintah Bella.
Aku mengepalkan tangan.
"Aku minta maaf atas perbuatanku." Aku meninggikan suara, kata-kata itu terasa pahit di lidah. "Akulah yang mengejar Pak Denis, aku bertindak nggak pantas, itu sebuah kesalahan, aku yang nggak bisa mengendalikan diriku."
Ruangan itu sunyi.
Beberapa pria tua saling bertukar pandang. Ada yang menggeleng, ada pula yang mencibir.
"Aku janji... aku nggak akan ganggu keluarga ini lagi." Aku memaksa kata-kata itu keluar. "Aku akan pergi dan nggak akan kembali."
"Bagus." Salah satu pria berambut putih mengangguk. "Bukan kejahatan bagi anak muda untuk membuat kesalahan, selama mereka bisa belajar dari kesalahan itu."
Aku teringat dua tahun lalu, di ruangan ini juga, Denis pernah menunjukkan pada mereka sebuah lukisan Renaissance yang kupulihkan.
"Elian itu genius," katanya waktu itu. "Dia bisa menghidupkan kembali karya seni yang mati."
Kebanggaan dan kekaguman di matanya waktu itu terasa seperti lelucon kejam sekarang.
"Rapat selesai," ucap Denis mengumumkan.
Saat semua orang pergi, Bella melewatiku. Bahunya menghantam bahuku. Dia membungkuk mendekat, aroma parfumnya menyengat. "Gadis pintar. Lain kali, menangislah supaya aktingmu lebih meyakinkan," bisiknya.
Tidak lama kemudian, hanya aku dan Denis yang tersisa.
"Lukamu masih sakit?" tanyanya sambil melirik tanganku yang diperban.
Aku menatap Denis, tidak percaya dia masih berani bertanya begitu.
"Kamu pura-pura peduli?"
"Setelah kamu menyelesaikan proyekmu, aku akan beri libur seminggu dengan bayaran. Lalu kamu bisa bersiap pindah ke rumah di Pantai Barat." Dia mengabaikan pertanyaanku. "Istirahatlah."
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, Bos. Boleh aku pergi sekarang?" cibirku.
Dia mengangguk.
Aku berbalik hendak pergi, tapi berhenti di depan pintu.
"Denis," kataku sambil menatapnya. "Kau ingat 'Sleeping Venus'? Aku habiskan tiga bulan memulihkannya, dan kamu bilang itu hal terindah yang pernah kamu lihat."
Ekspresinya menegang.
"Akhirnya aku mengerti." Tawa getir lolos dari bibirku. "Kamu nggak pernah mencintaiku, kamu mencintai apa yang bisa kulakukan. Aku memperbaiki barang-barangmu yang rusak, menghidupkan kembali apa yang mati."
Aku menatap mata Denis. "Bedanya, Denis, sebuah lukisan nggak bisa mencintaimu balik dan nggak akan pernah bikin kamu dalam masalah."
Aku tidak menunggu jawabannya, tetapi langsung pergi.
Sesampainya di apartemen, aku mulai berkemas.
Aku melempar semua yang berhubungan dengan Denis ke dalam kantong sampah.
Buku-buku pemberiannya, foto-foto kami, bahkan berkas proyek kerjaku.
Aku memutus semua ikatan dengan masa laluku.
Keesokan harinya, aku berdiri di pembukaan besar hotel baru yang didanai Grup Sanggu.
Ini proyek terakhirku sebelum meninggalkan Nawa Yok. Aku bertanggung jawab atas pemulihan dan penataan seluruh karya seni hotel.
"Tuan dan Nyonya sekalian." Suara pembawa acara bergema. "Mari kita sambut konsultan seni utama kita, Nona Elian Vanka untuk memperkenalkan koleksi seni hotel ini."
Aku menarik napas dalam dan melangkah ke panggung.
Ini adalah puncak karierku, sekaligus perpisahanku.
"Terima kasih semuanya." Aku menyesuaikan mikrofon. "Malam ini, kami dengan bangga mempersembahkan… "
Namun tiba-tiba, kegaduhan kecil merambat di antara para tamu.
Para tamu mulai berbisik, menatapku dengan pandangan aneh.
Bingung, aku menoleh ke layar besar di belakangku.
Jantungku seakan berhenti berdetak.