Bab 1
Kakakku memanggilku sayang dan mentransferku uang. Calon istrinya mengira aku adalah wanita simpanannya. Dia membawa orang-orang ke rumah baru yang kudesain dengan indah.
"Masih muda, tapi sudah jadi wanita simpanan. Hari ini, kugantikan orang tuamu mendidikmu!"
"Aku akan memposting tindakanmu ini di forum universitas supaya dosen dan teman-temanmu tahu kamu wanita murahan!"
Mereka menghancurkan rumah baruku, menarik bajuku. Mereka menggantungkan kartu pelajar di leherku, lalu memotretku.
Ketika kakakku datang, matanya memerah. "Beraninya kalian menindas adikku! Kalian sudah bosan hidup ya?"
Seminggu sebelum ujian, aku datang ke rumah baru kakakku dengan membawa setumpuk buku pelajaran. Lingkungan di sini sangat tenang. Aku ingin belajar dengan giat untuk persiapan ujian.
Beberapa menit setelah aku membaca, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang tergesa-gesa. Kukira tanaman yang kupesan sudah sampai, jadi langsung membuka pintu.
"Semuanya, lihat. Wajah asli si pelakor akhirnya terungkap!"
Begitu pintu dibuka, sebuah ponsel yang dipasang pada tongsis hampir membentur wajahku. Yang memegang tongsis itu adalah seorang gadis bertubuh mungil dengan riasan tebal di wajahnya. Di belakangnya, ada banyak orang.
"Siapa kalian? Sepertinya kalian salah rumah?" tanyaku sambil mengernyit.
Sebelum aku bereaksi, orang-orang itu sudah mendorongku masuk.
"Ternyata ini pelakornya ya? Nggak cantik-cantik amat."
Para wanita itu mengamatiku dengan niat jahat, membuatku merasa sangat tidak nyaman. Hatiku diliputi kegelisahan.
"Kenapa kalian menerobos masuk ke rumah orang? Tolong keluar sekarang juga." Aku yang panik pun ingin mengambil ponsel. Namun, seorang wanita berambut keriting dan bertubuh ramping sontak merebut ponselku.
"Kamu mau minta bantuan? Jangan harap!" Wanita itu memelototiku dengan galak. "Beraninya kamu merebut calon suamiku! Hari ini, aku akan memberimu pelajaran!"
Sebelum aku memahami ucapannya, wajahku sudah ditampar.
"Semuanya, lihat wajah lugu pelakor ini. Pintar sekali dia bersandiwara. Kenapa para pria menyukai wanita seperti ini sih?"
Wanita yang menamparku itu mengelus telapak tangannya sambil meneruskan, "Ngapain pura-pura lagi? Kamu berani bilang kamu nggak kenal Henry? Kamu berani bilang kamu bukan simpanan calon suamiku?"
Henry adalah kakakku. Namun, kenapa mereka menyebutku pelakor? Selama ini, uang yang kupakai adalah uang ibuku.
"Aku kenal Henry. Aku adiknya!" Aku tidak pernah ditampar. Kini, amarahku pun bergejolak karena ditampar tanpa sebab. "Kalau tahu Henry kakakku, cepat angkat kaki dari sini!"
"Dasar nggak tahu malu! Gadis muda seperti kalian paling pintar berpura-pura. Jangan ngaku kakak kalau nggak ada hubungan darah deh!"
Wanita itu menekan wajahku dengan kukunya yang panjang. Aku kesakitan hingga mataku berkaca-kaca, tetapi aku tidak bisa melepaskan cengkeramannya.
"Evelyn, lihat rumah ini. Besar dan indah sekali. Henry baik sekali pada pelakor ini."
Evelyn? Sebuah nama muncul di benakku. Aku mendorong dengan sekuat tenaga. Sambil memegang wajahku, aku bertanya, "Kamu Evelyn, pacar kakakku?"
Begitu mendengarnya, sekelompok orang itu makin murka.
"Kamu sudah tahu Henry punya pacar, tapi masih menggodanya? Nggak tahu malu sekali!"
Tongsis itu kembali diarahkan kepadaku. Aku tahu dia sedang melakukan siaran langsung. Lantaran marah, aku langsung memukul ponselnya hingga jatuh.
"Singkirkan ponselmu. Aku bukan pelakor, Kak ...." Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, wanita yang melakukan siaran langsung itu sontak menendang perutku. Aku kesakitan hingga meringkuk.
"Aku adik Henry, adik kandung!" seruku sambil mencengkeram perutku dengan kesal.
Semua orang termangu mendengarnya. Kemudian, mereka semua menatap Evelyn.
"Henry punya adik nggak?"
"Punya," jawab Evelyn dengan ekspresi masam.
"Apa ada kesalahan di sini? Gawat kalau dia benar-benar adik Henry." Orang-orang mulai ragu.
"Dia bohong. Dia bukan adik Henry."
Bab 2
Wanita penyiar itu mengambil kartu pelajarku, lalu berkata dengan raut wajah bangga, "Wanita ini licik sekali. Bukannya mengaku, malah ingin menipu kita dia adik Henry."
Wanita itu meletakkan kartu pelajarku di depan kamera. "Namanya Reese. Marga mereka saja jelas berbeda. Masih mau menipu kita. Dia mahasiswi tingkat dua di Universitas Huma jurusan desain."
Aku pun panik. Wanita itu menyebarkan informasi pribadiku. Aku ingin merebut kartu pelajarku kembali, tetapi dua wanita lainnya tiba-tiba menahanku.
Evelyn mengira dirinya dipermainkan, jadi dia menamparku habis-habisan. Seketika, kepalaku terasa pusing. Mulutku bau amis darah.
"Dasar jalang! Beraninya kamu mempermainkanku! Kubunuh kamu!"
Aku ditahan sehingga tidak bisa ke mana-mana. "Kami memang saudara kandung."
Sayangnya, tidak ada yang percaya. Perhatian mereka ada pada desain mewah vila ini.
"Henry benar-benar menyayangimu ya, sampai-sampai menyiapkan vila semewah ini." Evelyn melirik sekeliling, lalu berujar dengan lantang, "Hancurkan vila ini!"
"Semuanya, jangan lupa beri aku hadiah. Siaran langsung penggerebekan rumah akan dimulai!"
Desain di vila ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk kakakku. Dari draf sampai pemilihan perusahaan, semuanya adalah hasil kerja kerasku.
Selama setengah tahun ini, asalkan punya waktu, aku akan kemari untuk memantau pekerjaan para kuli. Makanya, aku panik mendengar mereka akan menghancurkan rumah ini.
"Jangan! Ini hasil kerja kerasku!" Aku berusaha keras melepaskan diri, lalu menggores tangan tangan kedua wanita yang menahanku itu.
Sambil memaki, mereka mengerahkan tenaga yang lebih besar untuk menahanku. Aku bukan menyayangkan uang yang habis, melainkan menyayangkan jerih payahku.
Ketika melihatku panik, sekelompok orang itu makin bangga. Kemudian, terdengar suara barang-barang berjatuhan.
Hanya dalam beberapa menit, rumah ini menjadi kacau balau. TV baru dan vas antik di rumah pun hancur. Sofa kulit juga ditusuk sampai berlubang.
"Kalian ... kalian sudah gila! Aku bakal telepon polisi!" Aku menggertakkan gigiku.
Wanita yang menahanku pun menyergah, "Kamu masih berani lapor polisi? Kamu rasa polisi peduli pada pelakor? Ini masalah keluarga. Kami semua senior Evelyn. Kami datang untuk membantunya."
Usai berbicara, mereka mendorongku dan mencubitku. Aku kesakitan hingga meringkuk.
"Apa? Ada yang bilang lukisan ini lukisan terkenal di dunia? Harganya 800 miliar?" seru wanita penyiar itu. Suaranya sontak menarik perhatian semua orang.
"Jangan disentuh. Kalian nggak bakal bisa ganti rugi. Harganya 1 triliun."
"Aku nggak percaya Henry menghabiskan begitu banyak uang demi pelakor ini."
"Ya, itu pasti lukisan palsu."
"Lukisan ini sangat besar. Kalaupun palsu, pasti tetap mahal. Kalau nggak, mana mungkin dia panik begini?"
Mereka sibuk bergosip di depanku.
"Jangan disentuh. Nanti kalian nggak bisa ganti rugi." Lukisan itu dibeli kakakku dari acara lelang. Dia menyuruhku menggantungkan foto itu di rumahnya.
Begitu mendengarnya, Evelyn makin murka. "Aku suruh Henry beliin cincin mahal saja dia menolak. Dia malah membelikanmu lukisan seharga 1 triliun? Sialan!"
Evelyn berseru kepada orang-orang di belakang, "Hancurkan lukisan itu!"
"Semuanya, ayo kita injak lukisan ini sampai hancur! Seru nggak?"
Orang-orang itu mengambil lukisan di dinding, lalu melepaskannya dari bingkai dan menginjak hasil karya favorit kakakku.
Dalam hatiku, aku hanya bisa berdoa supaya jejak kaki mereka bisa dibersihkan.
"Ambil gunting! Ini pasti hadiah Henry untuk si pelakor! Kita gunting kasih hancur!"
Harapan terakhir dalam hatiku seketika sirna.
"Evelyn, kamu akan menyesal nanti," gumamku. Bukannya Kakak bilang pacarnya lembut dan imut? Apa Kakak tahu sisi kejamnya ini?
Bab 3
Tubuhku seketika mati rasa melihat lukisan yang hancur itu. Setelah lukisan itu hancur, Evelyn menemukan piano seharga 16 miliar. Aku hanya menatap dengan dingin karena bisa menebak apa yang akan terjadi.
Evelyn menghampiri piano itu sambil menatap lekat-lekat. Kemudian, dia menyapukan tangannya ke atas tuts piano. Seketika, terdengar suara yang memekakkan telinga.
Evelyn berbalik dan menghampiriku dengan ekspresi ganas. Dia menjambak rambutku dan menendangku. "Dasar jalang! Ini piano yang kumau! Henry bilang bakal membelinya untukku nanti! Kenapa malah ada di sini?"
Aku terjatuh. Sepatu hak tinggi Evelyn terus menendangku. Aku meringkukkan tubuhku secara naluriah.
Untuk sekarang, aku hanya bisa menahan diri. Jika wanita gila ini tahu rumah yang dihancurkannya adalah rumah yang disiapkan kakakku untuk pernikahan mereka dan piano itu memang untuknya, entah bagaimana reaksinya nanti.
Namun, aku tidak akan pernah menyetujui pernikahan mereka ini. Aku bersumpah, Evelyn tidak akan bisa menjadi bagian dari keluargaku!
"Gimana, semuanya? Seru nggak? Calon istri memukul pelakor! Jangan lupa, nama pelakor ini adalah Reese! Kalian boleh menyerangnya sesuka hati!" seru wanita penyiar itu.
Kukira situasi sekarang sudah merupakan yang terparah. Siapa sangka, seseorang menemukan barangku yang paling berharga di lantai atas. "Kak, coba lihat, apa ini?"
Aku menatap kotak kayu cendana yang diambil mereka. Seketika, aku melupakan rasa sakit pada tubuhku. Saking gugupnya, aku tidak bisa berbicara.
Evelyn membuka kotak kayu itu, lalu menyingkirkan kain di atas dan mengeluarkan piala kaca yang selalu kubersihkan dengan hati-hati.
"Juara pertama informatika. Apa hebatnya barang ini? Ngapain ditaruh di kotak kayu seindah ini? Hancurkan saja!"
"Jangan! Jangan dihancurkan!" pekikku melihat Evelyn mengangkat tangan untuk menghancurkan piala kaca itu. Aku lantas bangkit tanpa memedulikan rasa sakit di tubuhku.
"Kamu boleh menghancurkan apa pun yang ada di sini, kecuali piala kaca itu. Tolong kembalikan," pintaku.
Itu adalah penghargaan penelitian ilmiah tertinggi yang didapat orang tuaku saat muda. Kemudian, ayah dan ibuku bercerai karena punya perbedaan pendapat tentang penelitian dan rumah tangga.
Ayahku membawa kakakku. Mereka terjun ke dunia bisnis. Karena berhasil menemukan peluang, perusahaan mereka pun sangat sukses sekarang.
Sementara itu, ibuku membawa piala ini ke ibu kota dan mengabdikan diri pada ilmu sains. Setiap sengggang, ibuku akan menyeka piala ini. Aku tahu dia merindukan ayahku. Bagaimanapun, piala ini adalah bukti cinta mereka.
Ibuku tidak menikah lagi. Dia membesarkanku sambil melakukan penelitian ilmiah. Saat aku kuliah, ibuku jatuh sakit dan meninggal. Jadi, piala ini bukan hanya pengakuan prestasi mereka, tetapi juga simbol cinta dan peninggalan ibuku untukku.
Evelyn menatap piala di tangannya, lalu menatapku yang gugup hingga gemetaran. Kemudian, dia berkata, "Piala ini sangat penting bagimu ya? Kalau begitu, harus dihancurkan!"
Ketika melihatnya mengangkat tangannya lagi, aku langsung memekik, "Evelyn, barang itu sangat berharga untuk Henry. Kalau kamu menghancurkannya, dia akan membunuhmu!"
Evelyn seketika merasa ragu. Dia menunduk dan mengamati piala itu lagi.
"Henry anak orang kaya. Mana mungkin dia punya hubungan dengan ilmu sains? Tadi kamu berbohong kamu adik Henry. Kali ini kamu pasti sengaja, 'kan?" ujar wanita penyiar itu.
Evelyn mengernyit. "Aku hampir ditipu."
"Kumohon, asalkan kamu nggak menghancurkannya, aku akan melakukan apa saja." Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan wanita gila ini.
Evelyn menimang piala itu sambil tersenyum nakal. "Apa saja boleh? Oke. Kalau begitu, berlutut dan menggonggong."