Logo
Akibat Bebas Bergaul
Akibat Bebas Bergaul

Akibat Bebas Bergaul

48 Bab
Tamat
Dalam novel romance modern Akibat Bebas Bergaul, seorang individu menghadapi konsekuensi hidup yang berat setelah terjebak dalam gaya hidup bebas. Temukan dinamika pilihan sulit dan tanggung jawab dalam web novel ini bagi pembaca yang mencari romance fiction books dengan alur dewasa.
Bab 1 dari Akibat Bebas Bergaul

Perkenalkan Namaku Reggie, biasa dpanggilnya Egi. Dulu aku ini anak baik-baik. Paling bandel cuma nonton bokep. Pacaran ga berani ga ada nyali. Main game kesukaanku. Tapi hobiku sebenarnya adalah belajar.

Aneh gak? Itulah yang sebenarnya. Sampai pada kisah ini, pada waktu aku telah lulus SMA waktu umur 18 tahun.

Kisah ini bermula ketika aku hendak daftar ulang kuliah di salah satu universitas kota Bandung. Karena aku masih belum berpengalaman pergi-pergi sendirian dan karena Mama Papaku sibuk, mereka meminta Pamanku yang mengantar aku. Pas nya lagi, ternyata Pamanku memang sedang berada disana di kota B, sedang bertugas untuk LSM besar tempat dia bernaung.

Karena berbagai hal, sesampainya aku di kota B hari sudah gelap. Aku menelpon Pamanku untuk meminta jemputan di terminal. Rencananya aku menginap di kosan Pamanku saja, besok baru mendaftar ulangnya.

Kami bertemu di sebuah warung di terminal, rupanya ia sudah semenjak sore menunggu disitu. Ia tidak sendirian pula. Ada gadis yang menarik mata pria disebelahnya. Pamanku mengenalkanku padanya.

Tangan lentik gadis cantik itu mengulur padaku.

"Reggie...," kataku kaku.

Perempuan berkulit putih dengan rambut hitam lurus sebahu itu tersenyum ramah, ia tidak menyebutkan namanya.

"Ini temen Mamang, Gi....' kata Pamanku. "Evi namanya... Tante Evi lah kalo kamu manggilnya"

"Ih... masa Tante... emang aku udah tua..." ia tersenyum. "Panggilnya Teteh aja....' sambungnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan saja. Dalam hati aku masih bingung, siapakah dia ini? Apa Pamanku punya istri lagi? menjijikan... bi Nur istri Paman Cahya yang sah kemana. pikirku.

Tapi tak mau kupikirkan lagi. Ditawari makan aku langsung memesan soto. Bodo amat ah, aku tak mau campuri urusan, kataku dalam hati sambil makan.

Setelah aku makan, pamanku berbisik padaku.

"Mana ada ga titipan si Papa buat Mamang?"

Aku termenung dulu, mengingat ingat.

"Oh, iya lupa Egi...."

Aku mengeluarkan amplop dari tasku. Pamanku merebut begitu saja. Dibukanya isinya, ia menghitung. Lalu setengah diberikannya pada Evi.

"Nih, itu sama ongkosnya ya sekalian?"

Teh Evi tersenyum mengangguk.

"Makasih," jawabnya.

Aku melihat setidaknya 500 ribu dipegang perempuan itu lalu masuk kedalam saku celana jeannya, sementara sisanya 500 ribu masuk ke kantung saku seragam LSM milik pamanku.

"Hayu Gi... kita cao...," sahut Pamanku bersemangat.

Didalam mobil sedan butut tahun jebot milik pamanku mereka mengobrol seru didepan. Aku menghabiskan waktu dengan melihat-lihat sekitar, mencoba mengingat-ingat jalan yang kami lalui. Biar hafal nanti kalau kesini sendirian.

"Oh... jadi ini teh anak dokter Linda...' Teh Evi menoleh padaku.

'Iyaah...." jawab pamanku.

Aku mengangguk ramah.

"Kenapa emangnya?" tanya Mang Cahya.

"Gapapa, hihi ganteng... hahahaha...." Teh Evi tertawa sambil menutup mulutnya.

"Mirip Mamangnya ya?"

"Ih... ini mah mirip Mamanya atuh putih... si Akang mah mirip Papanya... item hahaha."

"Iiya kan memang Kakak saya."

Mereka membicarakan Papaku yang kakaknya Mang Cahya. Papaku juga Dokter sama dengan Mamaku. Pada saat itu Papaku menjabat sebagai Kepala di RSUD di kota kami.

"Si Mama teh orang Tionghoa bukan A Egi?" tanya Teh Evi.

"Iya setengah...." jawabku, "Dari si Kakek yang Tionghoa mah, nenek asli urang sunda...."

"Ooooh sama atuh yah sama Teteh.... Teteh juga kan Papa Teteh orang Tionghoa...."

"Cuma beda nasiib..." sela Pamanku.

"Hahaha...." kami semua tertawa bersama.

"Ko Teteh bisa kenal sama Mama saya. emang orang mana aslinya?" tanyaku penasaran.

Teteh dan Pamanku tertawa.

"Iya sama... orang sana juga Egi... tadi baru datang juga pake bis... cuma dia mah sore, kalo kamu janjina sore, datang-datang udah Isya.... huuuh..." jawab Pamanku.

Aku cengengesan, Teh Evi tertawa, kini tak lagi sambil menutup mulutnya. Ia membalik untuk melihat wajahku. Dimatanya terlihat pula senyumnya padaku.

Dia cantik, pake kaos u can see ketat, dimasukin kedalam celana jean yang menampilkan lekuk pantat, membentuk bodi ramping, ukuran dadanya pas. Rambutnya digerai sebahu lebih dikit. pakai poni untuk tirai wajahnya. 'Haduuuh... lumayan buat bahan coli nih....' kataku dalam hati.

'Dimana Pamanku yang begajulan bisa menemukan perempuan seperti ini', pikirku

Mobil memasuki pelataran sebuah cafe yang didekorasi dengan batang bambu.

"Mau kemana kita Mang?" tanyaku.

"Sebentar Gi ketemu temen... cuma sebentar... kamu makan lagi atuh.... atau nyanyi-nyanyi karaoke tuh sambil nunggu, si Evi seneng tah nyanyi... kalo ke kosan dulu jauh Gi muter...."

Aku sedang tak tertarik untuk bernyanyi, padahal aku ini vokalis band kacangan, aku lelah sebenernya pengen tidur. Tapi malas untuk protes sama Mang Cahya.

Aku memilih memisah menjauh dari meja mereka. Segera saja teman-teman pamanku berdatangan. Mereka memesan minuman beralkohol dan kacang-kacangan. Mereka mulai mengambil mic dan bernyanyi. Aku memesan kopi susu, dan mengambil hapeku mengabari orang tuaku bahwa aku sudah samapai dan bertemu Mang Cahya, kubalasi pesan-pesan kawan-kawanku pada hapeku.

Malam semakin larut, pesta di meja pamanku sudah mulai berkurang. Kini tinggal Teh Evi yang sedang bernyanyi. Pamanku yang sudah setengah teler tengah berbisik-bisik dengan rekannya. Ia kelihatannya sudah lupa kalau aku sekarang ini ikut bersamanya. Teh Evi melirik ke arahku, kelihatannya kasihan dengan keadaanku yang kelihatan bosan, ia mengangkat 1 botol bir yang masih penuh bermaksud menawarkan padaku.

Ternyata efek bir sebotol itu lumayan buatku. Aku terlelap di mejaku. Bukan tak sadarkan diri. Cuma hawa alkohol memang berhasil menambah kantukku. Pamanku membangunkanku ketika mereka semua bersiap untuk bubar. Di mobil aku lanjut tidur. Sesampai di kosanpun aku langsung menggoler tiduran lagi diatas karpet, aku memilih diatas karpet karena kulihat kasur cuma ada satu.

Aku terbangun sesaat di gelap malam, terganggu oleh suara yang konstan berulang, aku sayup mendengar suara kain bergesek berulang-ulang suara pria yang sedang ngos-ngosan, dan suara perempuan yang sedang merintih seperti menahan sakit. Mataku mencari-cari, masih buram karena belum terbiasa dengan gelapnya ruangan.

Setelah jelas barulah aku melihat tubuh pamanku yang telanjang tengah menindih tubuh Teh Evi yang bersuara lirih. Tidak terlihat seluruh tubuh bawahnya, karena terhalang pantat paman yang aktif naik turun memompa. Mata Teh Evi terpejam, ia kelihatan berusaha menahan suaranya sepelan mungkin. Desahannya terdngar, 'aang....

Seumur hidupku baru dua kali memergoki orang sedang bersetubuh, kedua orangtuaku sewaktu aku kecil, sekarang pamanku dan Teh Evi yang entah siapanya. Kejadiannya hampir sama, terbangun seperti ini.

"Aw... aw," Tiba-tiba Teh Evi mengaduh. Aku buru-buru menutup mataku lagi.

"Aduh jangan neken ke situ atuh Kang, kena tulang ih... sakit...."

"Oh, iya maaf...."

Pompaan itu kembali terdengar. Aku mengintip lagi. Kini kulihat Teh Evi tak lagi memejamkan mata, tak lagi mendesah kenikmatan, wajahnya bolak balik menatap ke arah sana sini. Ia seperti sedang melayani pamanku saja, menunggu selesai.

Tiba-tiba pandangan matanya beradu dengan intipan mataku. Aku terkejut, sontak kututup buru-buru. Teh Evi kelihatannya masih memperhatikanku untuk memastikan

"Kang... eh eh Kang... itu Egi bangun kali....?"

Pamanku berhenti sejenak, ia berpaling menatap ke arahku. Aku tegang, berusaha sebaiknya di luar kemampuanku berakting pura-pura tidur. 'Mampus... jangan sampe ketawan....' Nafasku kuatur semirip orang yang tidur. Sampai kukeluarkan sedikit suara kerongkongan orang tidur.

Terdengar kembali suara kain bergesekan, walau perlahan. Lagi enak kayaknya si Paman, tanggung kalau mau lepas.

"Bukan ah... tidur dia sih... ngga.... ga apa-apa...."

Pamanku melanjut ijut lagi Teh Evi, lebih semangat kedngrannya sekarang. Suara plak plak kulit beradu pun terdengar.

"Aaaach...." Teh Evi menjerit kecil. Akupun penasaran, kubuka lagi mataku.

Pamanku menahan badannya dengan tangannya, hentakan pada tubuh bawahnya jadi lebih kencang. Plak plak.... Teh Evi memejamkan kembali matanya. Kedua tangnnya ada di dada Mang Cahya.

"Sssshhh... aaah... jangan keluar di dalam," seru Teh Evi.

"Iiyaaa aaaaaaarghh...." Pamanku mencabut kontolnya pas ketika spermanya muncrat di perut Teh Evi.

"Aaaaaaargh... ah hah hah hah...."

Teh Evi memperhatikan tiap crotnya yang keluar. Tak terlalu banyak seperti yang di film bokep. Cepat ia mengambil celana pendek pamanku dan mengelapnya seketika. Sempat ia melirik ke arahku. Pandangan kami beradu lagi sekilas. Terkejut lagi aku, otomatis pula kututup matak. u.

"Aaahh..." Pamanku terdengar menggelesoh ke sebelah Teh Evi.

Deg! Inilah kesempatanku melihat memeknya. Sebelum ditutup yang punya. Aku membuka mataku lagi.

'Wew...! Kusaksikan Teh Evi menutupi tubuhnya dan memeknya yang ditumbuhi bulu hitam itu perlahan dengan selimut. Aku terpana. Selimut itu terus ditariknya sampai dada yang masih memakai u can see tadi. Kutangkap matanya menatap kepadaku, bibirnya agak mengulum senyum. Aku langsung terkena sihir, terutama si tititku yang perjaka, si titit tegang luarbiasa.

Tapi ku tak berani apa-apa, setidaknya harus menunggu mandi pagi agar bisa kucolikan ketegangan ini.

Pamanku langsung mengorok. Teh Evi beranjak duduk sambil berselimut rapat. Aku membalikan badanku. Akupun berusaha tidur.

Sebelum tertidur kudengar Teh Evi pergi kekamar mandi cukup lama.

Udara dingin menerpa wajahku. Aku masih bisa bertahan, tapi kemudian suara bising mobil sedan butut dan bau knalpot membangunkanku. Setelah sepenuhnya sadar, barulah aku tahu, pamanku sudah berada dalam mobil hendak memacunya pergi. Kulihat Teh Evi berdiri dekat jendela mobil berbicara dengan pamanku.

Aku duduk kebingungan menatap Teh Evi yang masuk kembali ke kamar sambil menutup pintu.

"Apa A, hehe udah bangun?" tanyanya duduk diatas kasur sambil menyulut sebatang rokok.

"Itu si Mamang dipanggil ketua Kota Bandung, disuruhnya mah kemarin setelah dari café itu. Tapi malah ketiduran dianya...."

Ia duduk mencari-cari sesuatu. Mataku pun ikut mencari. Sama-sama kami tertumbuk pada sesuatu, celana dalam perempuan Teh Evi. Ditariknya kain kecil berenda tersebut kedalam selimutnya. Ia tiduran sebentar sambil berusaha memakainya, masih didalam selimut rapat.

"Eh maaf ya A, pakai ini dulu... hihi males mau ke kamar mandi...."

Barulah disitu aku ingat kejadian semalam. Terbayang kembali keseruannya. Kontolku bergerak sedikt demi sedikit.

'Aduh.... aku coliin dulu aja apa ya?' pikirku dalam hati.

"Mau ngopi A?" tanya Teh Evi.

Ia kini setengah menelungkup menghadapku, bertumpu pada siku sambil merokok.

"Teteh mau?"

"Eh, malah balik nanya, Teteh bikin satu gelas untuk berdua aja ya?"

Aku mengangguk. Ia berdiri mengikatkan selimut pada pinggangnya, diatasnya ia tetap memakai U can see, tapi tanpa beha kulihat.

^*^

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Hanya Karena Sebuah Rumah
Hanya Karena Sebuah Rumah
Dalam novel romantis modern Hanya Karena Sebuah Rumah, pernikahan lima tahun hancur saat Boni memindahkan kepemilikan rumah mereka kepada cinta pertamanya. Menghadapi pengkhianatan dan kemarahan suami, sang istri memilih mengambil keputusan tegas untuk bercerai. Baca novel online gratis ini sekarang.
Istri Terlahir Kembali: Sekali Digigit, Dua Kali Pemalu
Istri Terlahir Kembali: Sekali Digigit, Dua Kali Pemalu
Dalam Istri Terlahir Kembali: Sekali Digigit, Dua Kali Pemalu, Rylie kembali ke masa lalu demi menghindari pengkhianatan Mathias. Meski berniat cerai dalam romance novel ini, Mathias justru menolak melepaskannya. Baca kisah modern novel ini tentang kesempatan kedua dan pilihan hati.
Mendadak Kaya
Mendadak Kaya
Dalam novel Mendadak Kaya, seorang gadis yang baru saja dipecat menerima tawaran makan malam senilai 100 juta rupiah. Kisah billionaire romance books ini mengikuti pilihannya menghadapi tantangan finansial melalui kencan tak terduga yang mengubah nasibnya dalam genre modern novel.
Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati
Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati
Dalam Pernikahan Paksa, Hari yang dikhianati, Liora menikahi Arvid demi membalas dendam pada keluarganya. Namun, pengkhianatan adiknya mengubah hidupnya menjadi penjara emosional. Baca romance novel ini untuk melihat perjuangan Liora di webnovel penuh intrik dan pengkhianatan.
Pupus
Pupus
Dalam novel romance modern berjudul Pupus, Gwen dan Arsakha berjuang mempertahankan cinta saat masa lalu orang tua mereka terungkap. Di tengah konflik keluarga ini, temukan kisah mengharukan di webnovel ini. Baca buku online gratis untuk melihat apakah takdir mereka akan berakhir sama.
RAHASIA BAPAK MERTUA
RAHASIA BAPAK MERTUA
Dalam mystery story RAHASIA BAPAK MERTUA, sebuah larangan keras membuka tabir horor di rumah sendiri. Penyelidikan terhadap kamar terlarang mengungkap rahasia gelap yang selama ini disembunyikan. Baca horror novel ini untuk menemukan kebenaran yang mengerikan di balik perilaku aneh sang mertua.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Azab dari Dewi Pena
Azab dari Dewi Pena
Dewi Pena, yang berinkarnasi sebagai mahasiswa, menjalani ujian hidup. Teman sekamar, Rosita Yongki, diam-diam menyembah Dewi Pena untuk mendapatkan kekayaan dan kecantikan, terdorong oleh keserakahan untuk merencanakan hal jahat terhadap Stella Guhara. Stella menampakkan wujud aslinya untuk menghukum, sementara Rosita menyesal di usia senja dan menjalani sisa hidup berbuat baik untuk menebus dosa. Jalan pintas adalah jalan sesat, sedangkan kebaikan adalah jalan yang benar.
Ayah, Tolong! Ibu di Penjara!
Ayah, Tolong! Ibu di Penjara!
Ketika seorang CEO yang berkuasa menemukan putrinya dan membebaskan kekasih masa kuliahnya dari penjara, mereka harus mengatasi kebencian selama bertahun-tahun dan berkorban untuk melindungi anak mereka dari orang-orang yang memisahkan mereka.
Lensa Maut
Lensa Maut
Kalau sebelumnya POV menyuguhkan cerita dengan tema dewasa, sekarang POV hadir dengan membawa cerita yang mencekam. Ini adalah sebuah seri antologi yang mengisahkan tentang orang-orang yang merekam momen-momen terakhir mereka dengan kamera ponsel mereka. Kisah seperti seorang suami baik hati yang membukakan pintu kepada orang-orang asing, seorang pria dewasa yang rela membayar wanita asing untuk mengisi kekosongan hidupnya, dan seorang anak kaya yang mencoba menjadi pahlawan, semuanya terekam oleh kamera ponsel mereka. Ketika rekaman itu berhenti, yang tersisa hanyalah cerita para pembunuh yang dapat terdengar.
Suami Playboyku Calon Kaisar
Suami Playboyku Calon Kaisar
Cathy, pewaris marquis, dijodohkan dengan Pangeran Walter atas perintah kaisar. Di hari dekret dikeluarkan, Walter menyelamatkan sepupu Cathy, Emma, dari tenggelam. Tekanan dari nenek Cathy memaksa Walter menikahi keduanya. Setelah naik takhta, dia mengangkat Cathy sebagai permaisuri hanya sehari, lalu meracuni Cathy dan calon anaknya, serta mengeksekusi seluruh keluarganya. Ternyata Emma berasal dari era modern, dan semua ini adalah rencana mereka. Terlahir kembali di hari penetapan pernikahan, Cathy menolak Walter dan memilih Pangeran Kyle, seorang playboy terkenal yang reputasi buruknya hanyalah kedok. Bersama, mereka mencapai posisi tertinggi, dan Kyle akhirnya menjadi kaisar berikutnya.
Nikah Dadakan, Rahasia Si Kembar
Nikah Dadakan, Rahasia Si Kembar
Anak-anak lucu dan polos menjadi penyelamat! Si kembar yang pintar menemukan ibu yang sempurna untuk ayah mereka yang adalah seorang CEO miliarder. Ayah dan ibu baru mereka akhirnya menikah mendadak, dan yang ajaib adalah ternyata ibu baru itu adalah ibu kandung mereka yang telah lama hilang!
Oh Pewarisku yang Bangga!
Oh Pewarisku yang Bangga!
Setelah malam ber alkohol yang berlebihan, dia akhirnya terjerumus dengan paman kembar dari pacarnya, dengan niat untuk menjadi kesalahan sekali kali. Namun, paman kembar memutuskan untuk mengejar masalah lebih jauh. Menyesalnya, tindakan pacarnya ternyata berada dengan saudarinya, yang berulang-ulang kali mencerobohinya. Dihadapkan pada pengkhianatan dan provokasi yang terus-menerus ini, bagaimana dia akan merespon...