Bab 1

Di hari putraku mengikuti kompetisi piano, aku mengalami kecelakaan mobil dalam perjalanan menuju tempat acara.

Aku tidak repot-repot menangani lukaku. Aku berjalan tertatih-tatih dan berhasil tiba tepat di acara pemberian penghargaan.

Putraku memenangkan medali emas dan dengan antusias berlari ke arahku.

Aku tersenyum dan menundukkan kepalaku, tetapi dia malah berbalik dan menggantungkan medali emas di leher cinta pertama suamiku.

Bahkan, suami yang kucintai selama sepuluh tahun itu memasang ekspresi tidak senang.

"Lihat apa yang kamu kenakan! Penampilanmu kotor banget. Seperti pengemis!"

"Jangan datang ke pesta perayaan anak kita malam ini. Jangan buat dia malu!"

Aku tidak menanggapinya dan pergi ke rumah sakit sendirian untuk menangani lukaku.

Di tengah hujan lebat, aku berlari kembali ke vila. Namun, aku baru sadar pintu telah terkunci.

Aku mengetuk pintu sepanjang malam di tengah hujan lebat.

Saat fajar menyingsing, aku mengirim pesan kepada mereka.

"Ayo kita bercerai. Sesuai keinginan kalian, kelak aku nggak akan mengganggu kalian lagi."

Aku mengeluarkan kunci pintu vila dari tas dan menaruhnya secara pelan di bawah karpet pintu.

Begitu keluar dari pintu, aku menerima pesan dari Chris Liman.

"Anakku bilang dia ingin makan panekuk yang dijual di Distrik Batani sana."

Jika ini terjadi dulu, aku pasti akan naik kereta bawah tanah ke Distrik Batani untuk membelikannya. Tak lupa juga, segelas susu kedelai yang hangat.

Namun, sekarang ….

Tanpa ragu-ragu sedikit pun, aku mematikan ponselku, lalu mengeluarkan kartu SIM dan membuangnya ke tempat sampah.

Menggunakan WIFI di minimarket, aku membeli tiket untuk kembali ke kampung halaman.

Saat membayar, masuk panggilan telepon whatsapp dari Chris.

Aku tidak sengaja menekan tombol jawab.

Di ujung telepon sana, terdengar nada cemberutnya.

"Vanesa, kamu berkeliaran ke mana pagi-pagi begini? Kenapa masih belum kembali?”

"Anak kita bilang dia ingin makan panekuk, kamu masih belum belikan untuknya? Dia sudah hampir mati kelaparan."

"Kamu hebat sekarang. Bukan hanya mematikan ponselmu, tapi juga ribut mau cerai. Sepertinya kamu …."

Suaranya tiba-tiba hilang. Aku menutup telepon sambil memasang ekspresi datar. Lalu, memblokir akun whatsapp-nya.

Kata-kata tidak penting itu tidak perlu diucapkan lagi.

Kemarin sore, aku sengaja keluar lebih awal dan memesan bunga yang disukai Sean. Aku takut mempermalukannya, jadi aku khusus membeli gaun yang harganya mahal sekali.

Namun dalam perjalanan menuju tempat acara, aku mengalami kecelakaan mobil yang serius.

Aku merangkak keluar dari mobil yang terbalik dan menolak saran tim penyelamat untuk melakukan pemeriksaan. Kemudian, berlari ke tempat acara dengan cemas.

Ada goresan besar di dahiku. Siku dan lututku juga berdarah.

Namun, Chris seolah tidak peduli sama sekali. Dia hanya fokus dengan gaunku yang kotor dan rambutku yang berantakan, tetapi tidak menanyakan lukaku sakit atau tidak.

Aku ingin memeluknya, tetapi dia malah berteriak dan mendorongku menjauh.

"Minggir. Jangan mengotori pakaianku!"

Rasa jijik di matanya begitu jelas hingga mataku mulai terasa perih.

Aku membeku di tempat. Aku hanya bisa melihatnya menggamit lengan Kirana dan mengajaknya pergi.

Sean mengikuti mereka. Saat melewatiku, dia sengaja menyenggolku. Ada tatapan meremehkan yang tidak bisa disembunyikan.

"Lihat penampilanmu. Kamu bahkan nggak bisa dibandingkan dengan Kirana. Pantas saja anakku nggak mau mengakuimu sebagai ibunya!"

Ada orang tua murid kenalanku menepuk pundakku dengan simpati dan bertanya, apa aku perlu dibawa ke rumah sakit atau tidak.

Aku menahan air mata dan menggelengkan kepala. Aku memegang buket bunga yang sudah hancur akibat kecelakaan mobil, lalu meninggalkan tempat itu sendirian.

Setelah masuk ke dalam mobil dan duduk, aku baru sadar sudah terlalu tergesa-gesa.

Aku melihat tanggal di ponselku dan menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku.

Pernikahan kami sudah berjalan sepuluh tahun. Setiap hari aku hanya sibuk mengurusi Chris dan putraku. Aku belum pernah merayakan ulang tahun dengan sungguh-sungguh, jadi tentu saja tidak ada yang mengingatnya.

Bahkan, aku sendiri juga hampir lupa.

Saat petugas mendorong kereta berisi makanan melewatiku, aku memilih sepotong keik kecil yang kelihatannya tidak terlalu enak.

Aku belum makan seharian. Perutku sudah keroncongan karena kelaparan.

Namun, aku masih meletakkan keik itu di atas meja dengan sungguh-sungguh, lalu menangkupkan kedua tanganku untuk membuat permohonan.

"Semoga ke depannya aku bisa hidup demi diriku sendiri."

Aku membuka mataku dan bersiap makan. Namun, di saat aku mengangkat kepalaku, mataku tidak sengaja bertemu dengan tatapan penuh harapan dari gadis kecil yang duduk di sebelahku.

Dia menatap keik yang kelihatannya tidak terlalu enak itu sambil menelan ludah.

Sangat mirip dengan penampilan rakus Sean sewaktu masih kecil.

Bab 2

Aku tersenyum tipis, lalu menawarkan keik itu kepadanya.

Sepertinya, dia sangat kelaparan. Dia menghabiskan seluruh keik itu hanya dalam waktu kurang dari dua menit.

Masih ada sedikit krim yang menempel di sudut mulutnya.

Lantaran buru-buru keluar rumah hari ini, aku lupa membawa tisu. Aku ingin meminta orang tuanya untuk membantu menyeka mulutnya, tetapi aku baru sadar kalau kursi di sebelahnya kosong.

Aku bertanya dengan ragu.

"Kamu sendirian? Ibumu mana?"

Dia mengerutkan bibirnya, matanya memerah, lalu menundukkan kepalanya, dan menjawab dengan suara kecil.

"Ibuku sudah bawa adikku turun dari kereta api. Katanya, kalau aku duduk dengan patuh di sini, pasti ada orang yang menyukaiku."

Aku baru menyadari ada yang tidak beres. Aku pun memanggil petugas kereta. Setelah diperiksa, aku baru tahu kalau wanita yang membawanya ke sini telah diam-diam turun dari kereta api beberapa jam yang lalu.

Dengan kata lain, dia ditinggalkan di kereta api.

Saat kami hampir sampai di stasiun, dia memeluk kakiku dan menangis, memohon agar aku membawanya pergi.

"Tante, kudengar anak-anak di panti asuhan sering dipukuli. Kamu mirip dengan ibuku. Maukah kamu mengadopsiku?"

Aku menggelengkan kepalaku, lalu meminta maaf dan menolaknya dengan kejam.

Aku tidak punya banyak aset. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi, aku tidak punya kemampuan untuk mengadopsi anak lagi.

Saat turun dari kereta, aku memandangnya untuk terakhir kalinya.

Ada air mata di wajahnya. Namun, dia tetap melambaikan tangannya kepadaku, berpura-pura bijak.

Ibuku datang menjemputku.

Sudah tiga tahun aku tidak bertemu dengan ibuku. Terakhir, aku membawa Sean pulang untuk menghadiri pemakaman ayahku.

Tiga tahun tidak bertemu dengannya, aku baru sadar ibuku kini bertambah tua.

Cahaya di matanya meredup. Bahkan, rambutnya juga banyak memutih.

Dia menatap pintu keluar dengan cemas. Saat melihat aku pulang sendirian, senyuman di wajahnya tiba-tiba menghilang.

Dia menggerakkan bibirnya beberapa kali, tetapi pada akhirnya dia tidak menanyakan apa pun. Dia hanya menarikku ke dalam pelukannya dengan tangan gemetar dan membelai kepalaku seperti yang dia lakukan saat aku masih kecil.

Di peluk seperti itu, aku tiba-tiba tidak bisa menahan diri dan langsung menangis.

Setelah berkorban selama sepuluh tahun, meninggalkan anak yang kulahirkan dengan mempertaruhkan separuh hidupku tentunya akan terasa memilukan dan menyakitkan.

Ibuku tidak mengatakan apa-apa. Dia menepuk punggungku dengan lembut dan dengan sabar menungguku puas menangis. Lalu, dia meraih tanganku, menghentikan taksi, dan membawaku pulang.

Saat melewati sebuah toko ponsel, aku meminta sopir untuk berhenti sebentar. Aku turun dari mobil, membeli kartu SIM baru dan memasangnya.

Begitu menghidupkan ponsel, beberapa pesan whatsapp langsung masuk.

Pesan dari Sean. Aku sempat ragu. Ujung jariku ingin menekan tombol hapus, tetapi pada akhirnya aku gagal menekannya.

Tidak perlu menghapus pesan itu. Lagi pula, prosedur perceraianku dengan Chris juga masih perlu didiskusikan dan ditangani.

Aku menekan pesan suara yang dia kirim. Nada bicaranya begitu sombong, seolah sedang berbicara dengan ibu pengasuh.

"Bu, mana kaus kakiku?"

"Jaketku mana?"

"Dasar wanita bodoh. Ayah bilang, kalau kamu masih nggak pulang, dia akan menceraikanmu!"

Aku menutup obrolan whatsapp, lalu bersandar di bahu ibuku dan memejamkan mata untuk bersantai.

Nada dering ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku menunduk dan melihat foto profil Sean muncul di layar.

Aku bahkan tidak punya keinginan untuk mengangkatnya dan hanya membiarkan ponsel bergetar di tanganku.

Namun, Sean sepertinya tidak menyerah. Setelah berdering berulang kali, akhirnya ibuku angkat bicara.

"Sean meneleponmu? Anak itu sangat gigih. Jangan menyakiti hatinya."

Aku menghela napas. Terakhir, aku pun mengangkat teleponnya.

Mungkin karena menunggu terlalu lama, suara Sean terdengar dingin dan tidak sabar.

"Kapan kamu pulang? Kamu tahu nggak, gara-gara tasku nggak ketemu, aku hampir terlambat ke sekolah tadi pagi?"

"Selain itu, bukankah kamu janji mau menyelesaikan tugas pekerjaan tanganku? Kalau kamu nggak segera kembali membantuku menyelesaikannya, aku akan suruh Ayah …."

"Sean."

Aku menyela kata-katanya dengan lembut. Aku bosan dengan keluhannya yang tidak habis-habis.

"Dengarkan baik-baik. Aku dan ayahmu sudah mau bercerai. Kelak aku nggak akan pulang lagi."

"Selain itu, kamu sudah delapan tahun. Bisakah kamu berhenti bersikap seperti anak kecil dan terus mengandalkan orang lain?"

"Kelak kamu harus mengandalkan dirimu sendiri."

Bab 3

Suaraku dingin, tetapi hatiku masih terasa sakit.

Mungkin seperti ada bagian hatiku yang terkoyak.

Hening lama di ujung telepon sana. Sampai aku kira dia telah menutup telepon. Tiba-tiba terdengar suara pekikan tajam yang disertai tangisan.

"Atas dasar apa! Kamu-lah yang melahirkanku. Atas dasar apa kamu yang memutuskan mau jadi ibuku atau nggak?"

Aku hanya bisa tersenyum pahit.

Atas dasar apa?

Dia pasti sudah lupa.

Demi merayakan ulang tahunnya yang kedelapan, aku bahkan mempersiapkan pesta untuknya dengan sepenuh hati. Waktu itu, aku dan Kirana sama-sama membeli keik ulang tahun untuknya.

Yang aku beli adalah keik favoritnya dengan dekorasi Ultraman, sedangkan yang dibawa Kirana hanyalah keik buah biasa.

Aku dengan hati-hati membawakan keik itu ke hadapannya, tetapi dia hanya melihat sekilas saja, kemudian menjatuhkannya.

Dia mengerutkan kening, lalu protes kepadaku.

"Bu, aku sudah dewasa. Siapa yang masih suka Ultraman? Kekanak-kanakan sekali!"

Aku menatap rokku yang kini berlumuran krim keik sambil berusaha menahan air mata.

Jelas-jelas sebulan yang lalu, di saat Kirana belum kembali, dia menangis lama karena aku menolak membelikannya mainan Ultraman di etalase mal.

Setelah menstabilkan emosiku, aku mengangkat kepalaku. Dia menerima keik biasa dari tangan Kirana sambil memperlihatkan senyum manis.

Dia bersandar di pelukan Kirana dan berkata dengan nada manis.

"Terima kasih Tante Kirana. Aku suka sekali!"

Chris juga merangkul bahu Kirana dan memandang mereka dengan penuh kasih.

Mereka bertiga seperti keluarga bahagia. Sebaliknya, aku hanyalah orang luar.

Saat itu, aku tiba-tiba merasa kecewa.

Sepuluh tahun pernikahan, delapan tahun mengasuh anak. Ternyata, semua itu tidak ada artinya di mata mereka.

Di klimaks acara ulang tahunnya, Sean membuat permohonannya di depan lilin-lilin yang menyala.

Beberapa kerabat dan teman menggodanya dengan menanyakan apa keinginannya.

Dia malah menjawab dengan nada serius.

"Semoga ibuku bisa menghilang dan Tante Kirana bisa menjadi ibu baruku."

Lantaran jawaban itu terlalu mendadak, senyuman di wajahku seketika membeku.

Hatiku serasa ditimpa batu besar. Sakit sekali.

Aku terus memaksakan senyum sampai pesta berakhir.

Tidak ada yang tahu betapa sakit hatiku.

Namun sekarang, dia bertanya kepadaku, atas dasar apa.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawabnya dengan serius.

"Sean, kamu masih ingat permohonan ulang tahunmu?"

"Kamulah yang lebih dulu melepaskanku, bukan aku yang nggak menginginkanmu. Mulai sekarang, aku nggak akan mengganggumu lagi. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi!"

Kata-kataku agak kasar. Melalui ponsel, aku bisa mendengar isak tangis dan napasnya yang tidak beraturan.

Dulu aku masih kasihan, tetapi sekarang aku hanya merasa kesal.

Saat bersiap menutup telepon, suara marah yang tertahan milik Chris terdengar dari ujung telepon lagi.

"Vanesa, perlukah kamu memperlakukan Sean seperti ini?"

"Sebagai istri dan juga seorang ibu, inikah yang seharusnya kamu lakukan? Kenapa kamu selalu begitu impulsif?"

Tiba-tiba aku merasa konyol.

Jelas-jelas, aku hanya mengikuti keinginan mereka dan membiarkan mereka mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan.

Mengapa mereka masih menyalahkanku?

"Chris, di perayaan pernikahan kita bulan lalu, aku menunggumu di restoran yang sudah aku pesan tiga bulan sebelumnya hingga restoran itu tutup. Kamu masih ingat kenapa kamu nggak datang hari itu?"

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menambahkan.

"Kamu bilang ada urusan di kantor. Tapi aku malah melihat wajahmu muncul di unggahan instagram Kirana."

"Dia bilang, terima kasih sudah datang malam-malam membantunya mengusir kecoak menakutkan itu."

Aku tidak berbicara lagi. Chris yang di ujung telepon sana juga terdiam.

Setelah beberapa saat, dia baru menggertakkan gigi dan berkata.

"Vanesa, kamu mau bercerai, 'kan? Jangan menyesal nanti!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B85246" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B85246
Salin

Akhir dari Sepuluh Tahun Pernikahan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya