Bab 1
Sudah tiga jam aku menunggu Eldino Marven, pacarku.
Pria yang seharusnya jadi tokoh utama itu mendadak ke rumah sakit karena ditelepon oleh gadis kesayangannya.
Pergelangan kaki gadis kesayangannya itu terkilir, tetapi dia malah sengaja merekam video ciumannya dengan Eldino.
Saking dalamnya cinta mereka, Eldino yang kedua kakinya cacat itu ternyata sanggup bangkit berdiri dan bahkan mendorong Adena Horian ke pintu.
"Eldino, kok kamu nggak kasih tahu Arissa kalau kakimu sudah sembuh?"
Eldino pun menjawab.
"Kalau dia tahu, dia pasti akan ribut memintaku menikahinya."
"Memangnya Arissa itu siapa sih? Dia itu cuma pengasuh gratis! Apa dia pantas menikah denganku?"
Eldino dan Adena berciuman dengan penuh gairah.
Adena bahkan mengenakan gaun pengantin rancanganku dan melirik kamera dengan provokatif.
Video pun berakhir dengan bunyi air yang menjurus.
Ternyata selama ini Eldino membohongiku.
Aku langsung membuang kue yang kubuat untuk pria itu ke tempat sampah.
Lalu, aku menundukkan kepala dan mengirim pesan kepada ibuku.
"Halo, Bu, aku mau ikut kencan buta itu."
Detik berikutnya, ibuku membalasku dengan pesan suara.
Suaranya terdengar kaget dan senang.
"Akhirnya kamu mau juga, Rissa! Sudah Ibu bilang si Eldino itu nggak pantas buatmu!"
"Sebentar lagi akan Ibu kirimkan nomor rekan kencan butamu."
Aku memberi tahu ibuku bahwa aku akan pulang tiga hari lagi.
Tepat setelah telepon kami berakhir, gagang pintu pun berputar.
Eldino yang merupakan salah satu pemeran utama dalam video itu datang menggunakan kursi rodanya.
Dia mengernyit menatapku yang duduk di sofa, lalu memarahiku seperti biasa.
"Bukannya kamu mau merayakan ulang tahunku? Kenapa malah duduk diam?"
Kue yang kubuat untuknya tergeletak tenang di dalam tempat sampah.
Aku menatap Eldino itu dengan saksama, lalu pandangannya beralih ke kakinya.
Sepertinya dia merasa bersalah, dia tidak berani menatapku untuk sesaat.
Dia malah memalingkan wajahnya dengan panik sambil berkata dengan tidak sabar.
"Sudahlah, sudah kuduga kamu memang nggak bisa diandalkan. Aku juga nggak berharap kamu mau membantuku merayakan ulang tahunku."
"Aku lapar, sana buatkan makanan untukku. Kamu nggak mungkin nggak bisa melakukan hal sesepele itu, 'kan?"
Eldino memerintahkanku dengan santai.
Hatiku terasa begitu pedih.
Karena Eldino ternyata sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai pacarnya selama lima tahun ini.
Melainkan seorang pengasuh gratis.
Baginya, sudah merupakan hal yang wajar melihatku melakukan sesuatu demi dirinya dan mengurusnya.
Baginya aku ini sama seperti budak, bukan sosok kekasih.
Rasanya makin lama hatiku makin mati rasa.
Aku ingin bertanya kenapa dia membohongiku.
Namun, setelah dipikir-pikir lagi, aku mengurungkan niatku.
Aku sudah tidak peduli lagi mau jadi seperti apa kakinya sekarang.
Pokoknya aku akan tetap pergi dari sini.
Tepat pada saat itu, pintu pun diketuk.
Adena masuk sendirian.
Dia seolah tidak menyadari ketegangan yang terjadi antara aku dan Eldino. Dia berjalan ke belakang Eldino, lalu melilitkan syal di leher pria itu dengan penuh kasih sayang.
Adena pun menegakkan tubuh dan menatapku dengan alis terangkat, lalu berkata dengan kaget.
"Oh, ternyata Kak Arissa juga ada di sini? Aku merajut syal ini sendiri pas lagi luang, aku nggak tahu Eldino suka atau nggak."
Eldino melirikku, lalu menjawab sambil tersenyum.
"Dena memang terampil sekali, syalnya sangat cantik."
Mereka berdua saling bermesraan di depanku.
Aku memperhatikan syal rajutan Adena.
Tiba-tiba, aku teringat akan syal rajutanku untuk Eldino seminggu yang lalu.
Apa reaksi Eldino waktu itu?
Dia malah menatap syal itu dengan jijik dan melemparkannya ke tanah seperti seonggok sampah.
Nada suaranya saat itu juga terdengar begitu meremehkan.
"Arissa, kalau kamu menggunakan waktu yang kamu habiskan untuk merajut syal ini buat bekerja, kamu nggak mungkin bisa ditindas oleh orang-orang di perusahaan."
Aku menundukkan kepalaku dan mengambil syal itu.
Malam itu, Eldino tiba-tiba mengambil syal yang tergeletak di sofa dan bergegas keluar.
Kukira dia hanyalah tipe orang yang bicara kasar.
Buktinya, dia bilang dia tidak peduli, tetapi dia tetap mengambil syal dan mendorong kursi rodanya keluar.
Aku takut Eldino masuk angin, jadi aku mengikutinya.
Ternyata di luar sana aku melihatnya menyerahkan syal itu kepada Adena yang sedang menunggu.
"Dena, kamu nggak perlu beli pakaian buat anjing liar. Syal rajutan Arissa yang kukasih tadi cukup hangat, gunakan itu saja untuk membuat kandang."
Bab 2
Suara Eldino yang tidak sabar pun menyentakkanku kembali dari lamunanku.
"Arissa, kamu tuli? Nggak dengar tadi kusuruh buatkan Dena secangkir kopi?"
Aku menarik napas dalam-dalam.
Sabar, sabar.
Aku hanya perlu bersabar selama tiga hari lagi, lalu aku bisa menyingkirkan pria satu ini.
Namun, Adena malah membelaku.
"Eldino, jangan begitu dengan Kak Arissa. Mungkin dia nggak dengar karena lelah mengurusmu akhir-akhir ini."
Matanya pun melirik ke arah kaki Eldino, entah dia sengaja atau tidak.
Eldino tidak akan terima orang lain membicarakan kakinya.
Dia menatapku dengan marah sambil berkata dengan nada rendah.
"Arissa, sok sekali kamu, ya? Kamu itu memang berkewajiban mengurusku! Siapa suruh kamu jadi pacarku?"
Dia menggertakkan gigi sambil menatapku.
"Sebentar lagi sudah bukan."
Aku menyahut.
Ini adalah kali pertama aku tidak menghormati Eldino.
Eldino tidak merespons.
Dia hanya memelototi ekspresiku yang terlihat biasa-biasa saja, lalu meminta Adena mendorongnya keluar untuk menenangkan diri.
Setelah mereka berdua pergi, aku mulai mengemasi barang-barangku.
Aku membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan Eldino.
Saat sedang berkemas, tiba-tiba Eldino kembali.
Dia menatapku dengan dingin sambil duduk di kursi roda.
"Kenapa? Kamu nggak senang gara-gara kutegur?"
"Kenapa hatimu rapuh sekali? Kamu nggak sekuat dan segigih Dena."
Dia mendengkus dengan dingin, pujian dan sanjungan tersirat dalam kata-katanya.
Aku yang dulu pasti merasa sedih dan dilema.
Sekarang, aku hendak pergi.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan Eldino ataupun Adena.
Eldino tiba-tiba mendorong kursi rodanya ke depan.
Dia mengambil pakaian anak-anak yang kubeli untuk janin yang terpaksa kugugurkan setegah tahun lalu, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
Tangannya tampak agak gemetar.
Mau apa lagi dia sekarang?
"Arissa, kita masih bisa punya anak."
Eldino berjanji padaku.
Sayangnya, aku sudah tidak peduli lagi.
Apa yang terjadi setengah tahun lalu itu adalah kenangan pahit untukku.
Saat itu, aku dan Eldino pergi untuk memeriksakan kondisi kehamilanku.
Namun, aku malah bertemu dengan Adena di depan pintu rumah sakit.
Tubuh dan wajahnya tampak memar.
Adena bilang dia tidak sengaja terjatuh dari tangga.
Itu adalah pertama kalinya Eldino meninggalkanku demi menemani Adena ke dokter.
Selama hamil, emosiku menjadi fluktuatif. Aku menjadi begitu sensitif dan rapuh.
Aku yang merasa sedih pun akhirnya bertengkar dengan Eldino.
Bisa-bisanya dia meninggalkanku untuk menghabiskan waktu dengan wanita lain?
Pada saat itulah aku terjatuh karena ditubruk oleh anak-anak yang sedang berlarian.
Eldino melindungi Adena dengan sigap sambil diam saja menyaksikanku terjatuh ke atas lantai.
Kondisiku yang syok dan kaget membuat janinku tidak bisa diselamatkan.
Sejak saat itu, aku jadi sulit hamil.
Lama sekali Eldino tidak mendengar jawabanku. Begitu dia menoleh, aku sudah keluar dari kamar.
Dia tetap di sana selama beberapa saat, dia pikir aku masih marah padanya.
Lalu, dia mendengkus tidak peduli dengan dingin.
Saat aku keluar untuk membuang sampah, Eldino menghampiriku lagi dengan kursi rodanya.
Dia melihatku membuang semua hadiah yang pernah dia berikan padaku.
"Kenapa kamu membuang semua itu?"
Suara Eldino terdengar agak marah.
"Untuk apa juga menyimpan barang yang nggak diperlukan."
Aku menyahut dengan nada datar.
Eldino sontak tercekat dan berbalik pulang, dia tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.
Saat aku akhirnya selesai berkemas, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00.
Barulah pada saat itu dia menyadari ada yang aneh.
"Kok kamu tiba-tiba mengemasi semua barangmu?"
Dia terlihat agak gelisah.
"Ayo kita putus."
Aku menjawab dengan singkat.
Eldino pun menghela napas dengan lega, lalu menyahut dengan agak tidak puas.
"Bilang lagi saat kamu sedang berkemas. Jangan sampai kamu nggak sengaja membuang hadiah yang kubelikan untukmu tahun lalu."
Aku hanya diam menatap Eldino, tangannya menggenggam kalung yang dia belikan untukku tahun lalu.
Kalung itu kalung murahan dan sudah berkarat.
Itu adalah perhiasan pertama yang dia berikan padaku setelah empat tahun kami berpacaran.
Barulah di kemudian hari aku tahu bahwa Eldino ternyata membeli kalung itu di sebuah toko pinggir jalan.
Aku malah mengenakan kalung itu cukup lama bak harta karun.
Aku sontak menertawakan diriku sendiri.
Eldino pun mengisyaratkanku untuk menyimpan kalung itu.
Aku mengambil kalung itu, tetapi lalu berbalik badan dan membuangnya ke tempat sampah.
Bab 3
Eldino menatapku dengan amarah yang tertahan.
Sikapku malam ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Selama ini aku selalu menurut pada Eldino, tetapi hari ini aku terus menentangnya.
Aku juga terlalu malas untuk ambil pusing dengannya.
Dering ponsel Eldino tiba-tiba memecahkan suasana hening di antara kami.
Aku langsung tahu itu pasti telepon dari Adena.
"Halo, Eldino? Apa sekarang kamu lagi di rumah? Ada orang yang terus mengetuk pintuku. Aku takut."
Suara Adena terdengar kasihan dari ujung telepon sana.
Eldino mengernyit bingung.
Dia bilang akan tiba sekitar sepuluh menit lagi. Dia menenangkan Adena sebentar, lalu menutup telepon.
Saat menyadari tatapanku yang tertuju padanya, Eldino pun mencoba menjelaskan.
"Rumah salah seorang karyawan perusahaan mengalami masalah, aku harus ke sana."
Apa Eldino pikir aku ini tuli dan tidak bisa mendengar percakapan mereka barusan?
Namun, aku juga merasa terlalu malas untuk berdebat dengan Eldino. Aku hanya mengiakan singkat dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Arissa, tolong antar aku ke sana. Kamu 'kan tahu aku nggak bisa menyetir dengan kaki seperti ini. Sopirnya juga sudah pulang."
Nada bicaranya sama sekali tidak menerima penolakan.
Dia sama sekali tidak berniat berdiskusi denganku.
Aku memandangi kaki Eldino dengan kesan mengejek.
"Kamu yakin kamu nggak bisa menyetir dengan kondisi kakimu itu?"
Wajah Eldino sontak menegang untuk sesaat, tetapi dia segera menenangkan diri.
"Kamu 'kan tahu sendiri, Arissa. Aku nggak mungkin membohongimu."
Dia menatapku dengan tulus dan juga agak gelisah.
Aku akhirnya mengantar Eldino ke rumah Adena. Kami berdua hanya diam di sepanjang jalan.
Sesampainya di sana, Adena langsung membuka pintu dan bergegas menuju Eldino.
Eldino menatapku dengan perasaan bersalah. Karena aku diam saja, barulah dia berani membelai punggung Adena di depanku sambil menenangkan wanita itu.
Aku tidak mau melihat kemesraan mereka berdua, jadi aku berbalik badan dan berjalan pergi.
Namun, Eldino malah menghentikanku.
Dia sudah bicara denganku selama empat tahun ini, jadi kukira dia setidaknya akan mengatakan sesuatu yang menunjukkan rasa bersalahnya.
Ternyata, dia malah memerintahkanku dengan dingin.
"Arissa, sana ke dapur dan buatkan semangkuk bubur buat Dena. Dia agak ketakutan. Dia paling suka bubur yang sering kamu buat itu."
Setelah itu, Eldino kembali sibuk menenangkan Adena dalam pelukannya.
Aku sontak teringat bagaimana beberapa waktu yang lalu Eldino yang paling benci bubur itu tiba-tiba menyuruhku membuatkannya semangkuk bubur setiap pagi.
Ternyata itu karena Adena suka bubur.
"Kak Arissa, aku tahu nggak sopan sekali memintamu memasak buatku, tapi Eldino yang minta. Kamu selalu menuruti kata-katanya, 'kan?"
Eldino pun mendengkus dengan dingin.
"Aku nggak akan menikahi wanita yang nggak taat padaku."
Semua rasa kecewa yang menumpuk selama ini dalam batinku akhirnya meledak.
Aku pun tertawa.
Aku berbalik badan dan menatap kedua orang itu dengan dingin, lalu menyahut dengan dingin pula.
"Eldino, kamu harus ingat kalau aku bersedia membuatkanmu sarapan dan mengurusmu itu karena aku mencintaimu."
"Tapi, sekarang kamu pikir kamu siapa, hah?"
Aku kembali berbalik badan dan berjalan pergi, aku benar-benar tidak mengacuhkan Eldino yang terlihat pucat di belakangku.
Malam itu, Eldino tidak pulang.
Saat aku hendak tidur, sebuah rekaman video dikirimkan ke ponselku.
Di video itu tampaklah Adena dan Eldino yang sedang berbaring di atas kasur tanpa sehelai busana.
Adena juga melirik ke arah kamera dengan provokatif.
Aku ingin langsung menghapus video itu, tetapi akhirnya memutarnya dengan penasaran.
Detik berikutnya, suara erangan tiba-tiba terdengar dari ponselku.
Eldino tiba-tiba menggendong Adena.
Namun, dia sontak berhenti saat melirik ke arah ponsel.
Aku merasa begitu mual dan jijik, jadi aku menutup ponselku dan mengenyahkan semua pikiran yang mengganggu, lalu tidur.
Kali ini, aku tertidur dengan pulas.
Saat terbangun keesokan paginya, entah sudah berapa lama Eldino berada di samping tempat tidurku.
Dia duduk di kursi rodanya dengan wajah yang terlihat murung.
"Apa kamu melihat semuanya tadi malam?"
Dia bertanya padaku dengan ragu.
Tepat pada saat itu, ibuku mengirimkanku pesan.
Dia bertanya padaku kapan aku akan pulang.
Aku menjawab besok lusa.
Eldino kesal sekali karena kuabaikan.
Dia mencengkeram meja di samping tempat tidur, lalu bertanya dengan gelisah siapa yang mengirimkanku pesan.
"Ibuku. Dia bertanya kapan aku akan pulang."
Aku menjawab dengan jujur.
Eldino hanya mengiakan dengan singkat, dia pasti tidak begitu peduli.
"Kamu nggak melihat apa pun yang aneh kemarin malam, 'kan?"
Eldino bertanya lagi.
Aku mengernyit dengan kesal, lalu menggelengkan kepala.
Terlihat jelas ekspresi Eldino berubah menjadi lega.
"Syukurlah."
"Oh ya, aku sudah bikin sarapan. Kamu mau makan?"