Logo
Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)
Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

67 Bab
Tamat
Dalam Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu), seorang gadis piatu berjuang meraih mimpi di tengah krisis kasih sayang dan ekonomi. Modern novel ini mengikuti upayanya bertahan hidup demi pesan mendiang ibunya. Baca kisah perjuangan penuh inspirasi di young adult fiction romance books ini.
Bab 1 dari Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

“Kamu rencananya mau melanjutkan ke mana Aisyah?” Mbak Aira, istri dari Mas Juna bertanya.

Gadis kecil yang baru saja lulus dari bangku sekolah dasar itu bergeming. Ia sama sekali tidak tahu mau melanjutkan ke mana. Abah, bapaknya sama sekali belum membahas tentang hal itu. Jangankan memikirkan perihal kelanjutan pendidikan, semua hal tentang hidupnya, Mustofa, seolah tidak peduli.

Sebagai orang tua tunggal bagi Aisyah, seharusnya Mustofa lebih peka terhadap perkembangan putri sulungnya itu. Aneka pertanyaan pun hadir sebagai pembanding. Misal, “Dari mana Aisyah membayar biaya hidup dan sekolahnya? Bagaimana dengan sekolahnya? Aisyah lulus apa tidak?” Atau mungkin, tentang pertanyaan klise yang lain. “Apakah Aisyah sudah makan? Sehatkah Aisyah?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hanya ada dalam angan sebab Mustofa sama sekali tidak pernah mengungkapkannya. Krisis kasih sayang serta krisis figur orang tua yang bisa dijadikan role model, itulah yang kini dirasakan Aisyah. Mustofa teramat sibuk dengan keluarga barunya. Jangankan berbicara perihal kelanjutan pendidikan, mungkin juga lelaki yang usianya sudah tiga puluh lima tahun itu juga tidak memikirkan jika Aisyah masih hidup atau sudah ....

“Kenapa diam Syah? Memangnya kamu tidak mau melanjutkan?” tanya Aira membuyarkan lamunan Aisyah.

Gadis berambut lurus itu menatap Aira dengan mata berembun. Angannya berlayar jauh memikirkan perihal mimpi dan cita-citanya. Banyak hal yang ia inginkan untuk meraih semua itu dan tentunya langkah yang harus ia tempuh pertama kali pasti dengan pendidikan.

Pendidikan merupakan tangga dasar untuk menuju kesuksesan. Aisyah sangat ingin membahagiakan Simbah dan Simbok. Wanita renta yang tak mengenal lelah merawatnya, serta pria tunanetra yang selalu berjuang untuk dirinya.

“Syah?” tanya Aira lagi.

Aisyah masih saja belum menjawab. Gadis bertubuh kurus itu hanya menunduk, memelintir ujung baju kumalnya dan di situlah air matanya menetes tapi buru-buru ia mengusapnya.

“Ada apa?” tanya Aira sembari menyentuh lembut pundak Aisyah.

Aisyah menggeleng.

“Kamu mau sekolah?”

Gadis kecil itu pun mengangguk. "Tapi-“

“Tapi apa?” desak Aira penasaran.

“Aisyah belum ada biaya, Mbak,” lirihnya pilu.

Aira begitu paham dengan kondisi itu. Ia sangat mengenali Aisyah sebab kesehariannya memang selalu bekerja dengannya. Membuat tahu isi, bakwan, tempe goreng, dan aneka gorengan lainnya yang selain dititipkan di warung kecil-kecilan milik Aira, Aisyah juga menjajakan dagangan itu demi bisa bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang cukup sulit.

Mengingat hal itu, Aira pun mencoba menghibur gadis yang baru menginjak usia remaja tersebut.

“Untuk uang pendaftaran, tenang saja, Syah! Mbak Aira tahu, kok, sekolah mana yang paling minim biayanya. Bebas uang bulanan, bahkan bagi siswa baru akan dibagikan seragam sekolah gratis!” seru Aira dengan semangat yang begitu luar biasa.

“Gratis?”

Aisyah mengangkat dagu, menatap Mbak Aira dengan mata berbinar, tapi sekaligus berkaca-kaca. Ada harapan dan ketakutan yang bersisian di beranda netra itu.

Aira mengangguk. “Kalau saran Mbak, gimana jika kamu sekolah di Nurul Iman saja?”

“Nurul Iman? Di mana itu, Mbak?” tanya Aisyah polos.

"Itu, di desa Gumuk Rejo,” papar Aira dengan senyum termanisnya. Aira pun menatap Aisyah dengan begitu serius. “Nurul iman itu merupakan sekolah yang bebas dari uang bulanan, Syah. Di sana berada di bawah naungan pesantren. Pendidikan agamanya, kan, lebih bagus kalau di pesantren daripada umum. Lingkungannya juga ramah dan menurut Mbak juga sangat cocok buat Aisyah.”

Hati Aisyah begitu berbunga mendengar semua itu. Pandangannya seakan terpatri ke arah yang jauh lebih baik lagi. Pikiran positif kini berpihak padanya. Semangatnya membara. Rasa inginnya untuk sekolah pun begitu besar. Membuncah.

“Di sana juga mendapatkan seragam gratis, lho! Siswanya tidak dibebankan dengan biaya bulanan. Mbak mengajar di sana juga, kok. Guru-gurunya baik-baik dan ramah. Pokoknya asyik, dah!” seru Aira menyemangati.

Aisyah pun kini membayangkan seperti apa indahnya sekolahan itu. Sekolah yang akan menjadi tangga untuknya meraih segala mimpi dan cita-cita. Ia inginkan kehidupan yang lebih baik. Ia ingin menjadi orang sukses.

‘Sudah gratis, dapat seragam pula! Wah! Ini keberuntungan yang memang sangat aku idam-idamkan,’ batin Aisyah terbuai dengan sugesti Aira.

“Bukan hanya itu. Rosi dan Jamal juga sekolah di sana, lho, Syah!"

“Benarkah?”

Aira mengangguk cepat.

Rosi dan Jamal merupakan saudara sepupu Aisyah dari keluarga abahnya. ke dua lelaki yang usianya terpaut tidak terlalu jauh dari Aisyah itu sama sekali tidak dekat dengan dirinya. Namun, mereka adalah anak-anak yang baik. Mereka sering membeli dagangan Aisyah.

Aisyah pun tahu jika Jamal sudah sekolah Mts dan Rosi sudah duduk di bangku madrasah aliyah sebab hampir setiap hari Aisyah melihat mereka mengendarai sepeda ontel dengan mengenakan seragam biru-putih dan abu-putih, khas anak sekolahan. Hanya saja, waktu berjumpa dengan mereka itu tidak menentu. Kadang pagi, kadang juga sore.

'Apa mungkin mereka sekolah pagi-sore?'

Aisyah membiarkan pertanyaan itu hanya tertahan di kepalanya.

“Kamu tidak sendiri, Syah! Kalau ada temannya dari sini, kan, bisa numpang bonceng? Lumayan, lah, buat hemat ongkos angkot. Gimana?” bujuk Aira lagi.

Ide dari Mbak Aira itu memang cukup masuk akal. Aisyah pun sudah sangat bahagia mendengarnya. Namun, setelah membahas tentang Rosi dan Jamal, pikiran Aisyah mendadak kembali teringat tentang abahnya yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Ia takut jika pendidikannya akan terus menjadi beban bagi Mbah Kakung dan Simbok. Ia takut akan memiliki serentetan biaya tak terduka sebab menurut hemat Aisyah pendidikan itu pasti membutuhkan biaya dan bekal, sedangkan Simbah dan Simbok kini sudah sangat renta.

“Aisyah belum berdiskusi dengan Abah, Mbak,” sahutnya kemudian.

Wajahnya menunduk lesu, mencoba meraba seperti apa rupa orang tua yang amat sangat dirindukannya itu.

Mustofa Ahmad memang orang tua kandung Aisyah. Namun, Aisyah hanya menjadikan alasan itu agar Aira tidak bertanya kembali. Meski dalam lubuk hati Aisyah memang ingin berdiskusi dengan abahnya, tapi keinginan itu hanya ada dalam angan. Aisyah sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya sebab hubungan komunikasi ia dan abahnya sama sekali tidak pernah berjalan baik.

Sibuk! Selalu menjadi alasan klise yang kerap kali dilontarkan Mustofa ketika Aisyah meminta waktu untuk berbicara dengannya. Bagai anak ayam kehilangan induknya, Aisyah terdampar dalam belenggu rindu yang menyiksa. Rindu akan belaian cinta kasih orang tua, tapi sama sekali ia tak pernah mampu merasakannya.

Perlakuan itu bukan hanya dari Mustofa saja. Semua itu didukung penuh oleh Karmila, ummi tirinya yang memiliki perangai begitu temperamental. Ia sangat membenci Aisyah. Tak peduli Aisyah memiliki salah atau tidak, kebencian itu seakan tertanam begitu dalam. Membuat Aisyah takut untuk mendekat, meski hanya sekedar bertanya, “Apakah Abah ada? Bagaimana keadaannya? Sehatkah?”

Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang hanya mampu Aisyah catat dalam diari usang di sepanjang jalan kenangan. Mungkin ini yang sering orang bilang, "Mau sama bapaknya, tapi tidak mau sama anaknya. Miris sekali nasibmu, Syah!” Sambil menjajakan gorengan, pernyataan seperti itu sering kali Aisyah dengar.

“Mbak bantu berbicara dengan Abahmu, ya?" ucap Aira seolah mengerti apa isi kepala gadis kecil itu.

Mata Aisyah membulat, tidak langsung menyahut, masih berusaha mencerna apa yang Aira katakan barusan.

“Syah?”

Aira menyentuh pundak Aisyah kembali, membuat gadis kecil itu terkejut, mendongak dan menatap Aira serius.

“Tidak usah, Mbak.” Aisyah mencoba tersenyum, meski hatinya dilanda kepiluan. “Biar Aisyah sendiri yang akan bicara dengan Abah. Terima kasih atas segala bantuannya.”

“Yakin?”

Aisyah mengangguk pelan.

“Baiklah. Selamat berjuang, Aisyah. Apa pun keputusannya nanti, secepatnya kabari, Mbak, ya?”

Aisyah mengangguk. Aira menahan kaca-kaca di beranda netranya agar tidak tumpah. Melihat Aisyah, ia sekan melihat cerminan dirinya di masa lalu. Namun, nasibnya tidaklah seburuk Aisyah. Ia juga anak korban broken home, tapi sangat bersyukur memiliki ayah tiri yang begitu baik dan peduli padanya.

Aira pun sadar, tidak mudah memang berada di posisi Aisyah. Ia harus berjuang penuh untuk hidupnya. Kehilangan ibu kadang memang lebih menyakitkan daripada kehilangan ayah. Ibulah tempat kasih sayang bermuara. Jika ibu tidak ada dan seorang ayah tak lagi peduli, maka pincanglah hidup ini.

“Aisyah pamit dulu, ya, Mbak?” pinta Aisyah membuyarkan lamunan Aira.

Aira mengangguk. “Oh, ya. Tunggu dulu! Ini uangnya,” ucapnya seraya memberikan beberapa uang dari hasil Aisyah yang menitipkan dagangannya.

“Terima kasih, Mbak. Aisyah pamit dulu, ya?”

“Ya. Hati-hati di jalan, Syah. Mbak tunggu kabarnya.”

“Baik, Mbak.”

“Sukses!”

Aisyah mengaminkan doa tulus Aira dalam hati. Gadis kecil itu pun berlalu meninggalkan toko kelontong Aira, berjalan pelan menyusuri lorong kecil di desa Sumber Anom. Terik mentari yang menyengat membuat tubuhnya berkeringat. Tas kecil di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan mengelap peluh yang bercucuran dengan jemari kecilnya.

Aisyah begitu terlihat sangat memprihatinkan. Namun, dialah Aisyah, Siti Aisyah, seorang gadis tak beribu yang begitu kuat dan tegar menghadapi kenyataan. Ditempa sedemikian rupa oleh alam menjadikannya tangguh untuk terus berjuang.

Jalan kecil ia susuri, tidak peduli pada sebagian mata yang memandangnya iba ataupun hina, itu sudah hal biasa. Setelah ini, Aisyah akan menjajakan tahu isi dan bakwan ke rumah-rumah. Dia akan punya kesempatan buat mampir ke rumahnya sang Abah.

Aisyah berjalan terseok. Sesampainya di halaman, betapa terkejutnya ia saat melihat Simbok terbatuk-batuk. Ada darah di tangannya.

“Mbok!” Aisyah berlari sekuat tenaga. Gadis itu begitu ketakutan melihat darah.

“Uhuk! Uhuk!”

Maimunah, sang Nenek, Ibu kandung dari almarhumah uminya Aisyah itu terus saja terbatuk.

“Kenapa, Mbok? Mok tidak apa-apa, ‘kan?”

Panik. Aisyah menaruh keranjang tempat tahu isi di sembarang tempat. Air matnya berderai. Aisyah begitu ketakutan.

Maimunah tidak mampu menyahut. Perempuan renta itu memegang dadanya yang terasa begitu sakit.

Aisyah kebingungan. Ia berlari kesana-kemari mencari bala bantuan. Keringatnya bercucuran. Air matanya semakin berderai.

Naas! Tidak ada orang sama sekali di sekitar rumahnya. Biasanya juga ada Mbak Sima dan Bude Marni. Ke mana mereka?

Tergopoh Aisyah berlari lagi. Ketakutan dan kekhawatiran tentang Simbok semakin menjadi. Mbah Kakung terlihat sedang meraba-raba gedek, mencari jalan untuk kembali ke rumahnya.

“Aisyah?” panggil Mbah Kakung.

Aisyah hanya bisa menoleh, namun tak mampu beranjak dari tempatnya berada sebab kondisi Simbok sedang genting dan wanita renta itu sangat membutuhkan dirinya.

“Syah?” panggil Mbah Kakung lagi. "Kaki Mbah terjepit!" teriaknya membuat Aisyah tak kuasa menahan diri untuk tidak menolongnya.

Akan tetapi, secara bersamaan Simbok terbatuk lagi.

“Uhuk! Uhuk!" Darah kembali keluar dari mulutnya.

"Mbok? Apa yang terjadi dengan Simbok?" raung Aisyah begitu ketakutan.

"Tidak apa-apa. Mbok tidak apa, Nduk. Mbahmu kakinya terjepit. Bantu dia."

"Tapi, Mbok-"

"Sudah. Kasihan dia. Dia pasti sangat menderita "

Meski tubuh Simbok juga menderita, ia masih lebih mendahulukan kepentingan suaminya. Karena sudah dipinta seperti itu, Aisyah pun mengangguk dan berlari secepat mungkin menuju tempat Mbah Kakung.

"Astagfirullah, Mbah!" pekik Aisyah terkejut.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
Dalam web novel modern Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan, Julian kembali sebagai sosok berkuasa demi menyelamatkan Sienna dari pernikahan paksa. Sebagai billionaire baru, ia menjadi pilar kekuatan bagi Sienna. Baca kisah romance novel ini tentang kesetiaan yang mengubah takdir di antara mereka.
DESTINY
DESTINY
Dalam novel DESTINY, Zeline yang mengidap genophobia mencari cinta sejati melalui situs kencan online. Ia bertemu Ricardo, seorang triliuner asal New York. Romance novel ini mengisahkan perjuangan mereka mengatasi jarak dan trauma dalam kisah billionaire romance novels yang penuh rintangan.
Gadis Bangsawan
Gadis Bangsawan
Dalam novel modern Gadis Bangsawan, Amore Cardozo Pienza harus menghadapi cemoohan ibu tirinya di depan publik. Di tengah ketegangan mystery story ini, ia membongkar rahasia gelap melalui satu pernyataan fatal. Baca kisah young adult ini di platform web novel kami sekarang.
I Love You Daddy
I Love You Daddy
Dalam I Love You Daddy, pelarian Michy mengungkap rahasia keluarga dan wasiat yang terkubur. Agam harus menghadapi intrik warisan serta kemunculan Bianca dalam romance novel penuh misteri ini. Temukan kisah perjuangan mereka saat membaca online novel ini hingga tuntas.
Istri Kakakku Selalu Menangis
Istri Kakakku Selalu Menangis
Dalam Istri Kakakku Selalu Menangis, misteri menyelimuti rumah tangga Heru dan Rena. Penemuan tumpukan test pack dan kecelakaan misterius memicu penyelidikan mendalam. Simak kisah mystery novel ini di webnovel untuk mengungkap rahasia gelap di balik tangisan Rena dalam modern novel yang penuh teka-teki.
Istri Rahasia Sang CEO
Istri Rahasia Sang CEO
Dalam Istri Rahasia Sang CEO, Arana terjebak dilema saat Danendra menawarkan pelunasan biaya medis ibunya dengan syarat pernikahan. Sebagai romance novel dengan bumbu billionaire romance books, Arana harus memilih antara kekasihnya atau menjadi istri rahasia sang pengusaha ternama demi keselamatan ibunya.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

[Versi Dub] Hidupmu Dulu, Sekarang Milikku!
[Versi Dub] Hidupmu Dulu, Sekarang Milikku!
Briana dan Nayla memilih keluarga angkat di hari yang sama. Nayla masuk ke keluarga kaya Gultom, sementara Briana memilih keluarga sederhana. Setelah bereinkarnasi, peran mereka bertukar. Tapi… apakah akhir ceritanya juga ikut berubah?
Lawan Dunia Bersamamu
Lawan Dunia Bersamamu
Melanie Thorne, seorang pengacara sukses yang menikah, dan George Dearborn, pewaris sebuah perusahaan farmasi sekaligus keponakan dari suami Melanie, jatuh cinta saat jalan mereka bertemu. Namun, hubungan mereka ditentang oleh keluarga dan masyarakat, seolah takdir menempatkan seluruh dunia untuk melawan mereka. Kisah ini mempertanyakan apakah mereka akan tunduk pada tuntutan dunia atau berani menyadari bahwa dunia ini adalah milik mereka dan berjuang demi cinta.
Pacar ke Duplikat, Bos Jadi Cemburu Gila
Pacar ke Duplikat, Bos Jadi Cemburu Gila
Maya Santoso sudah bosan menjadi NPC di sebuah dungeon game horor, diam-diam kabur ke dunia manusia untuk jatuh cinta. Setahun kemudian, Sekar Lijanto, teman masa kecil kekasihnya Taufik Zulkifri, hendak mengikuti ujian di dungeon horor yang sama. Untuk melindungi Sekar, Taufik memaksa Maya ikut terseret ke dalam dungeon tersebut — yang kebetulan adalah dungeon ""Kota Dongeng Horor"" tempat Maya dulu melarikan diri.
Satpam Itu Tak Bisa Diremehkan
Satpam Itu Tak Bisa Diremehkan
Rigo adalah seorang satpam di kompleks. Meskipun penampilannya terlihat biasa saja, tetapi dia memiliki bakat bisnis yang hebat. Bahkan kehebatannya itu membuat para pengusaha besar menjadi terpukau. Setelah kebenarannya terungkap, barulah semua orang mengerti. Ternyata si satpam yang penampilannya begitu sederhana itu adalah pebisnis nomor satu di masa lalu itu.
Tidur dengan CEO Setelah Pengkhianatan Tunangan
Tidur dengan CEO Setelah Pengkhianatan Tunangan
Pada hari pernikahan saya, tunangan saya memberi tahu saya bahwa kakak perempuan saya sedang mengandung anaknya. Demi kehormatan keluarga, saya harus memutuskan pertunangan. Malam itu, saya melakukan hubungan satu malam dengan orang asing. Saya pikir dia hanya seorang koboi, tetapi sedikit yang saya tahu, dia adalah seorang miliarder yang posesif.
[Sulih Suara]Natalie, Putri yang Terbuang
[Sulih Suara]Natalie, Putri yang Terbuang
Natalie dulunya adalah putri kesayangan Keluarga Parsons, tapi dunianya hancur saat Monica muncul sebagai putri yang asli. Karena tuduhan Monica, dia jadi pembunuh neneknya dan dibuang keluarganya ke sebuah sekolah khusus pembentukan sifat. Dua tahun kemudian, dia dipulangkan, tapi malah dipaksa nikah dengan seorang buaya darat yang suka mabuk-mabukan. Seiring munculnya kenyataan masa lalunya dan kekejaman sekolah itu, Natalie menatap mereka dengan tatapan dingin. Balas dendamnya baru dimulai.