Bab 1
Tiga tahun setelah menggelar resepsi pernikahan, suamiku yang merupakan seorang pilot sudah 18 kali membatalkan rencana pendaftaran pernikahan kami.
Pertama kali karena murid perempuannya sedang uji terbang, aku menunggunya di depan Kantor Catatan Sipil seharian.
Kedua kali karena dia menerima telepon dari murid perempuannya dan buru-buru pergi, dia bahkan menurunkanku di pinggir jalan.
Kemudian, setiap kami akan mendaftarkan pernikahan, murid perempuannya akan mengacaukan rencana kami.
Akhirnya, aku memutuskan untuk meninggalkannya.
Namun, setelah aku menaiki pesawat menuju Doma, dia malah nekat mengejarku ke Doma.
Setelah tiga tahun menikah, aku dan Nathan Yuanda masih belum mendaftarkan pernikahan kami.
Hari ini adalah ke-1000 kalinya Nathan sukses menerbangkan pesawat, juga adalah ke-17 kalinya dia berjanji akan mendaftarkan pernikahan denganku.
Namun di pesta perayaan, ketika atasannya terus memaksaku minum alkohol, dia malah saling memberi makanan dan minuman dengan seorang pilot wanita yang merupakan muridnya.
Aku nyaris pingsan karena memaksakan diri untuk meminum alkohol dalam kondisi demam tinggi, tetapi dia bahkan tidak melihatku.
Banyak rekan kami yang menghela napas dan mendecakkan lidah, mereka menatapku dengan penuh simpati.
Semua orang mengetahui bahwa aku memaksakan diri untuk minum alkohol demi seseorang.
Setelah pesta perayaan berakhir, Nathan yang seharusnya pergi ke Kantor Catatan Sipil bersamaku kembali mengingkari janjinya.
Dia mengendarai mobil ke pintu masuk hotel, lalu mengulurkan salah satu tangannya untuk menghentikanku masuk ke dalam mobil.
"Tadi, Shilla terus menggantikanku minum. Aku akan mengantarnya pulang, kamu naik taksi saja."
"Kurasa sore ini kita sudah nggak sempat mendaftarkan pernikahan, lain hari saja."
Setelah selesai berbicara, dia sama sekali tidak peduli dengan tanggapanku. Dia bergegas keluar dari mobil dan menggendong murid perempuannya ke kursi penumpang.
Setelah lima tahun berpacaran dan tiga tahun menikah, ini adalah ke-17 kalinya Nathan membatalkan pendaftaran pernikahan kami demi Shilla Lianto.
Biasanya di saat seperti ini, aku akan menangis tersedu-sedu dan bertengkar dengannya. Sebenarnya siapa istrinya? Siapa yang menggantikannya minum alkohol?
Namun kali ini, aku hanya tersenyum sambil menjawab, "Oke, hati-hati di jalan."
Mendengarku menanggapi dengan begitu tenang, Nathan tertegun sejenak. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan tenang, "Nanti malam, aku akan membelikanmu hadiah sebagai kompensasi."
Setelah berkata demikian, dia langsung menginjak rem. Sebelum pergi, dia bahkan menutup jendela agar murid perempuannya yang mabuk tidak masuk angin.
Dulu, dia tidak dapat menoleransi bau alkohol di dalam mobilnya.
Setiap aku menggantikannya minum alkohol, sekalipun saat musim dingin, dia bukan hanya tidak akan menutup jendela mobil, dia bahkan membuka atap mobil.
Setelah dipikir-pikir, itu karena akulah orang yang berada di dalam mobil.
Teriknya Kota Marda di siang hari membuat orang berkeringat deras, tetapi hatiku malah terasa sangat dingin.
Aku menarik napas dalam-dalam dan memasukkan kartu keluarga ke dalam tas.
Aku tahu, sudah waktunya merelakan hubungan yang sudah berlangsung selama delapan tahun ini.
Bab 2
Sore hari, aku langsung kembali ke perusahaan dan menyerahkan surat pengunduran diri kepada atasanku.
"Apa Nathan tahu kamu ingin mengundurkan diri?"
Atasanku dikejutkan oleh keputusanku. Bagaimanapun, aku sudah menjadi pramugari terbaik di maskapai ini selama tujuh tahun berturut-turut dan memiliki peluang yang besar di maskapai ini.
Aku tersenyum masam sambil menjawab, "Aku akan memberitahunya malam ini, tapi kurasa dia nggak akan peduli."
"Selama beberapa tahun ini, kalian terbang di rute baru dan memenangkan banyak penghargaan. Bahkan tiga tahun lalu, Presdir pun menghadiri resepsi pernikahan kalian. Semua orang iri pada kalian, tapi ...."
Manajer menghela napas dalam-dalam, dia sangat menyayangkan kepergianku.
Benar, semua itu adalah kenangan yang indah.
Namun, kenangan hanyalah kenangan dan kami tidak dapat kembali ke masa lalu.
Setelah menyerahkan surat pengunduran diri dan pulang ke rumah, waktu sudah menujukkan pukul 10 malam.
Rumah sangat sunyi, tidak ada seorang pun di dalam.
Tiba-tiba muncul notifikasi Shilla mengunggah postingan baru di Instagram, dia bahkan menandaiku.
"Guru, terima kasih sudah menemaniku sore ini. Sebagai balasannya, besok aku akan mentraktir Guru menonton konser, aku sudah nggak sabar!"
Aku tahu meskipun tadi siang Nathan mengatakan akan pulang malam ini, kenyataannya dia tidak pulang.
Selama tiga tahun menikah, hal seperti ini sudah sering terjadi.
Setelah menyeduh semangkuk mi instan, aku membuka surat elektronik-ku.
Melihat tawaran dari belasan maskapai penerbangan di dunia, kursorku berhenti pada undangan dari Gana Air. Aku menerima tawaran itu, lalu memesan tiket pesawat ke Doma dua hari kemudian.
Lima tahun yang lalu, dalam perjalanan menuju Doma, Nathan mengalami kecelakaan terbesar dalam perjalanan kariernya. Sejak saat itu, Doma menjadi pantangan terbesar dalam hidupnya.
Bukan hanya dia yang tidak pernah menerbangkan pesawat ke Doma lagi, bahkan aku pun tidak pernah pergi ke Doma lagi.
Nathan, setelah aku pergi ke Doma, seumur hidup kita mungkin tidak akan bertemu lagi.
Bab 3
Keesokan paginya, aku bangun dan mulai berkemas.
Di tengah aku berkemas, Nathan pulang dengan mengenakan kemeja berwarna merah muda.
Ketika dia masuk, aroma parfum mawar yang menyengat tersebar ke udara.
Aku tertegun sejenak.
Dulu, dia sangat tidak menyukai aroma parfum.
Karena hal ini, selama kami bersama, aku tidak pernah memakai parfum, bahkan membuang parfum kesayanganku yang sudah kusimpan selama bertahun-tahun.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya dia bukan tidak menyukai aroma parfum, melainkan tidak menyukaiku memakai parfum.
Ketika masuk dan melihatku sedang berkemas, dia tertegun sejenak. "Semalam, Shilla baru sadar tengah malam. Aku tidur di hotel, makanya nggak pulang."
Aku menatapnya dengan heran.
Selama tiga tahun menikah, ini adalah pertama kalinya dia berinisiatif menjelaskan padaku.
Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia perlahan-lahan berjalan ke hadapanku, lalu menatapku sambil bertanya, "Kamu berkemas karena ada jadwal penerbangan kerja?"
Aku mengangguk. "Bisa dibilang begitu."
Mendengar jawaban ini, entah mengapa dia menghela napas lega. Dia lanjut berkata, "Hari ini, aku ada urusan. Aku akan pergi setelah mengambil barang, aku nggak makan siang di rumah."
"Oke."
Aku tidak mengangkat kepalaku dan lanjut mengemas koperku.
Awalnya, aku berencana untuk menyampaikan kabar pengunduran diriku di saat makan siang dan mengakhiri hubungan kami yang sudah berlangsung selama delapan tahun. Sekarang, sepertinya aku tidak memiliki kesempatan lagi.
Setelah itu, Nathan mengambil tas merah dan pakaian yang tergantung di dekat pintu. Dia pergi dengan terburu-buru.
"Buk!"
Begitu dia pergi, bingkai foto yang sudah tergantung di pintu selama delapan tahun tiba-tiba jatuh.
Pecahan kaca bertebaran di lantai.
Aku menoleh. Itu adalah foto aku dan Nathan menonton konser untuk pertama kalinya. Dalam foto itu, kami bergandengan tangan dan tersenyum lebar.
Hari itu, dia berjanji padaku. Sesibuk apa pun dia, setiap tahun dia akan menemaniku menonton konser. Namun, sejak Shilla menjadi muridnya, dia melupakan semua ini.
Di dalam ruangan kosong ini, hanya terdengar suara detak jam.
Aku terdiam untuk cukup lama. Pada akhirnya, aku membersihkan pecahan kaca di lantai, lalu membuang foto bahagia itu dan ketidakrelaanku ke tempat sampah.