Bab 2

Keesokan harinya, Shanti melenggang masuk ke kamar rumah sakit.

Dia membawa sebuket bunga lili putih yang biasa digunakan sebagai bunga pemakaman, dan tersenyum polos.

"Keluar," kataku. Suaraku sedingin es.

Shanti tetap memasuki ruang rawat, meletakkan bunga-bunga itu di vas, lalu berkata dengan pelan, "Ivania, jangan begini. Darius sudah marahin aku. Aku cuma mengintip berkas-berkasnya. Aku nggak tahu .... Aku benar-benar merasa bersalah."

Dengan satu kalimat, dia mengubah pelanggaran berat seperti membocorkan informasi menjadi kesalahan sepele. Dia bilang dia hanya "penasaran".

Perlahan aku berdiri dan berjalan ke arahnya. "Kamu pikir kata-kata 'aku nggak tahu' bisa bikin kamu tetap hidup?"

Aku menempelkan baja dingin pistolku ke dahinya.

Rasa takut akhirnya merayapi wajahnya. Dia tersentak mundur. "Kamu nggak boleh .... Darius, dia ...."

"Dia apa?" Aku mengokang pistolku.

Aku mencibir. Sikap palsunya benar-benar menyedihkan. Darius punya banyak wanita, tetapi tak ada satu pun yang berani mengancamku.

Tak ada satu pun yang berani menyatakan perang.

"Kamu pikir dia bakal perang melawanku hanya karena seorang pengkhianat?" tanyaku padanya.

Detik berikutnya, suara Darius terdengar dari ambang pintu. "Nia, hentikan!"

Dia menerjang di antara kami, menarik Shanti ke belakangnya, dan meraih tanganku.

Aku menatapnya, dan hatiku terasa membeku.

Kami sudah sepakat. Tak ada yang boleh membuatku kesal. Jika ada yang membuatku marah, dia yang akan menyingkirkannya.

Sekarang, demi wanita lain, dia berani melarang untuk kedua kalinya.

"Lepaskan. Sekarang." Setiap kata dari mulutku terasa seperti pecahan es.

"Nia, jangan," katanya dengan suara tegang. "Nggak begini caranya."

"Ayahku hampir mati!" teriakku.

Dari belakangnya, Shanti mengintip. "Darius," rengeknya, "aku cuma mau minta maaf ...."

"Kalau begitu, minta maaf saja," perintah Darius tanpa menoleh, nadanya keras. Shanti tertegun, lalu menundukkan kepala, tampak terluka. "Maafkan aku, Ivania."

Dia mengangkat matanya, dan di sudut yang hanya terlihat olehku, dia menggumamkan tiga kata, "Dia bakal melawanmu."

Seketika, tubuhnya melemas, jatuh ke pelukan Darius. "Darius ... aku ... aku merasa nggak enak badan."

Sandiwara itu begitu jelas hingga rasanya seperti menghinaku.

Darius sempat ragu. Dia menatapku, lalu menatap Shanti lagi, dan akhirnya memeluknya erat. "Aku akan mengantarmu pulang."

"Nggak," kata Shanti lemah sambil mendorongnya. "Ivania masih marah. Kamu harus temani dia di sini."

Ucapannya itu adalah sebuah pengingat. Sebuah permainan kekuasaan untuk menunjukkan siapa yang sebenarnya lebih membutuhkan Darius.

"Aku bakal balik sebentar lagi," janjinya. Sebuah janji yang aku tahu tidak akan dia tepati. Lalu dia merengkuh Shanti dalam pelukannya dan pergi.

Sesaat kemudian, ponselku berdering. Itu nomor Shanti.

Aku menjawab. Tak ada suara, hanya napas berat yang tertahan. "Darius ...." Suara Shanti terdengar semanis sirup, bergetar penuh kemenangan. "Kamu suka tato baruku? Tepat di tulang selangkaku. Ini inisialmu, persis seperti yang ada di pergelangan tangan istrimu."

Tato di pergelangan tanganku. Tato yang didesain khusus untukku oleh Darius di hari jadi pernikahan kami yang pertama.

"... Lebih cocok di kamu." Suara Darius terdengar serak.

Aku membanting telepon, tubuhku terasa sedingin es.

Aku harus keluar dari rumah sakit yang menyesakkan itu. Aku harus kembali ke rumah mansion kami.

Bentengku. Kerajaanku.

Namun, begitu aku mendorong pintu kayu ek rumahku yang berat, aku mendapati bahwa kerajaanku sedang diserbu.

Seorang wanita paruh baya yang tidak kukenal sedang memerintahkan para pelayan untuk menurunkan lukisan-lukisan ibuku dari dinding.

"Tempat ini seperti museum saja," cibirnya. "Benar-benar nggak ada kehidupan. Darius ingin menghidupkannya lagi."

Dan wanita yang memberi perintah itu adalah ibu Shanti.

Bab 3

"Hentikan!" teriakku, sambil berlari ke depan.

Ibu Shanti, Emira Rasyid, berbalik perlahan.

Senyumnya seperti predator yang baru saja merebut wilayahnya. "Ivania, kamu sudah pulang? Darius mengundangku untuk bantu mendekorasi ulang rumah ini. Katanya Shanti lebih suka gaya yang lebih cerah."

Mataku menyapu ruang tamu, dan hatiku mencelus.

Pajangan kain tenun dari abad ke-16 kesayanganku dirobek, dibuang ke lantai.

Sebagai gantinya, di dinding tergantung sebuah lukisan print murahan bergambar mawar pink raksasa.

Koleksi piringan hitam klasik yang langka dimasukkan ke dalam kotak kardus.

Di sebelahnya ada speaker Bluetooth murahan berhiaskan berlian imitasi yang memutar musik pop kencang-kencang.

Rumah ini, tempat berlindung yang dibangun bersama-sama oleh Darius dan aku, telah dinodai. Semuanya hancur berantakan.

"Ini rumahku," kataku, suaraku bergetar karena amarah yang begitu dalam hingga nyaris tak terdengar.

"Tentu saja, sayang," katanya, matanya mengamati ruangan dengan jijik. "Tapi rumah itu seharusnya terasa hidup, bukan seperti kuburan. Sudah waktunya menyingkirkan benda-benda usang yang nggak berguna."

Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Dia mengklik sebuah pesan teks dan menunjukkannya ke depan wajahku.

Pesan itu dari Darius. Kata-katanya seperti pisau yang menusuk perutku. [ Lakukan apa pun yang kamu mau dengan rumah ini. Sesuaikan saja dengan keinginan Shanti. ]

Aku tidak percaya Darius tega membiarkan seseorang mempermalukanku seperti ini.

Namun, aku tak punya waktu untuk mencernanya.

Tatapan Emira jatuh pada rak perapian.

Di atasnya terdapat sebuah kotak musik antik yang indah. Itu satu-satunya peninggalan ibuku.

Jantungku berdebar kencang.

"Seperti ini, misalnya," kata Emira. Dia mengambil kotak itu dan melempar-lemparnya dengan santai di tangannya. "Kualitasnya buruk, kuno. Barang rongsokan apa ini?"

"Taruh barang itu. Turunkan." Suaraku rendahku terdengar mengancam.

"Coba kutebak, ini hadiah dari mendiang ibumu?" Dia tertawa, sengaja membuka tutupnya di depanku.

Melodi yang jernih dan tajam memenuhi ruangan. Itu lagu kesukaan ibuku.

"Kubilang. Taruh. Sekarang." Rasa ingin membunuh menguar dalam suaraku.

"Kamu pikir kamu bisa menakutiku?" Senyum Emira berubah ganas. "Ivania, kamu harus hadapi kenyataan. Darius cinta sama kamu, tapi dia butuh kesenangan. Wanita membosankan dan kuno seperti kamu nggak akan sanggup menjinakkan dia. Barang rongsokan ini ... sama seperti masa lalumu yang menyedihkan dan terabaikan ...."

Brak!

Kotak musik itu pecah di lantai marmer. Hatiku pun ikut pecah berkeping-keping.

Musik itu berhenti. Persis seperti detak jantungku.

Aku ingat saat masih kecil, ibuku menggendongku, menunjuk lambang Keluarga Nostra di kotak musik itu.

"Nia," katanya, "ingat, kamu adalah anggota Keluarga Nostra. Jangan pernah kehilangan harga dirimu."

Sekarang kotak musik itu, sebagai perlambang ibuku, hancur berkeping-keping bersama harga diriku.

Aku menerjang Emira seperti singa betina, tetapi dua pengawal besar muncul entah dari mana, meraih dan mencengkeramku erat-erat.

Aku tak bisa bergerak.

Aku hanya bisa menyaksikan Emira menggerus pecahan-pecahan kotak musik itu di bawah tumit sepatunya. Suaranya membuatku muak.

"Lihat, 'kan?" katanya, menatapku dengan mata penuh kemenangan. "Gampang sekali dihancurkan. Persis seperti kotak murahan ini. Persis seperti harga dirimu."

"Kamu bakal merasakan akibatnya," desisku, meronta-ronta melawan para penjaga. "Demi nama Keluarga Nostra, aku akan membakar habis seluruh garis keturunanmu."

Saat itu, pintu rumah mansion terbuka lebar.

"Ivania!" teriak Darius dengan suara panik sambil berlari masuk.

Bab 4

Darius bergegas ke sisiku.

Dia melihat mataku yang berkaca-kaca dan kotak musik yang pecah berkeping-keping di lantai. Rasa pilu memenuhi wajahnya. "Nia, apa yang terjadi? Tanganmu ...."

Dia meraihku, tetapi aku tersentak menjauh karena merasa jijik.

Saat itu, Shanti berlari menyusulnya.

Dia menghambur ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya. "Mama, Mama baik-baik saja? Ini semua salahku, seharusnya aku nggak minta bantuan Mama .... Bu Ivania, maafkan kami, kami nggak bermaksud begitu!"

Emira langsung bersandiwara, menatapku dengan ketakutan palsu di matanya. "Darius, kamu harus bicara sama Ivania. Dia seperti orang gila tadi, dia bilang mau bunuh kami ...."

"Aku cuma suruh dia untuk nggak menyentuh barang-barang ibuku!" Aku menunjuk pecahan-pecahan di lantai, suaraku sedingin es.

Mata Darius melirik antara Shanti yang menangis, ibunya Shanti, dan aku.

Alisnya berkerut. Kepiluan di matanya digantikan oleh rasa tidak sabar dan keraguan.

"Nia, sudah cukup." Suaranya menyiratkan sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Itu adalah kekecewaan. Terhadap diriku.

Aku menatap suami yang kini seperti orang asing. Di rumahku sendiri. Dia bahkan menyebutku penjahat karena membela ibuku sendiri.

Rasanya sulit dipercaya. Rasanya menggelikan. Rasanya sungguh tragis.

"Darius," kataku lirih. "Aku mau cerai."

Kata-kata itu menghantamnya bagai bom.

Wajahnya memucat. Dia mencengkeram bahuku. "Nggak boleh! Kamu ini ngomong apa sih? Nia, kamu nggak bisa bertingkah seperti ini!"

"Kenapa nggak?" Aku menatapnya, wajahku seperti topeng yang terbuat dari es.

"Aku cinta sama kamu! Aku cuma cinta sama kamu!" raungnya. Ada sedikit rasa panik dalam suaranya yang bahkan dia sendiri tidak menyangkanya. "Shanti dan ibunya ... mereka nggak berarti apa-apa bagiku! Keluarga mereka mengusir mereka berdua, aku cuma ... membantu saja."

Di belakangnya, tangisan Shanti berhenti sejenak. Kilatan kebencian melintas di wajahnya.

"Kamu sadar, 'kan?" kataku sambil tersenyum mengejek. "Kamu bahkan nggak percaya sama kebohonganmu sendiri."

Aku menepis tangannya dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang.

"Ivania!"

Dia mulai mengejarku, tetapi kemudian aku mendengar suara memuakkan itu lagi.

"Darius, aku merasa nggak enak badan. Hatiku ... sakit."

Langkah kaki Darius berhenti di belakangku.

Sudah jelas siapa yang dia pilih.

Aku keluar dari rumah yang kini terasa seperti makam dan pergi ke satu-satunya tempat yang masuk akal, yaitu sebuah bar.

Wiski tidak menghilangkan rasa sakit. Justru semakin mempertajamnya.

Temanku sudah tidak sadarkan karena mabuk. Aku sedang terhuyung-huyung ke kamar mandi ketika menabrak dada yang kekar.

Aroma wiski yang kuat menusuk hidungku. Aku mendongak dengan mata sayu dan melihat wajah yang merupakan cerminan Darius, tetapi lebih tajam. Tatapannya lebih dalam, lebih berbahaya.

Minuman keras telah memperkuat semua rasa sakit dan amarahku.

"Bajingan!" Aku menarik dasinya dan menamparnya sekuat tenaga. "Darius Fontana, kamu bajingan! Mendingan kamu dan pelacurmu pergi saja ke neraka!"

Kepala pria itu tersentak ke samping. Dia tidak marah. Senyum gelap tersungging di bibirnya, seakan-akan ini semua adalah hiburan.

Dia menangkap pergelangan tanganku, suaranya yang dalam berdengung pelan di telingaku. "Lihatlah lebih dekat. Aku bukan suamimu."

"Kamu masih Keluarga Fontana," kataku melantur. "Nggak beda jauh."

Sisa malam itu terasa kabur.

Aku ingat aroma kayu yang kaya dari cologne-nya. Aku ingat lengannya lebih kuat daripada Darius.

Aku ingat saat kehilangan diriku sepenuhnya, mencurahkan semua rasa sakit dan amarahku hingga tak bersisa.

Keesokan paginya, aku terbangun di kamar tamu di rumah utama Keluarga Fontana. Kepalaku terasa pening.

Sinar matahari terasa menyilaukan. Aku bangun, menyadari bahwa tubuhku telanjang di balik selimut di atas ranjang yang asing.

Dan di sisi lain ranjang itu terbaring seorang pria. Dia membelakangiku, lekuk wajahnya terlihat tegas. Itu pria yang kulihat tadi malam.

"Siapa kamu?!" Aku menyambar selimut dan membungkus tubuhku dengannya.

Pria itu terbangun.

Dia membalikkan badan perlahan. Matanya yang dalam tidak menunjukkan rasa terkejut, hanya sedikit geli. "Kamu sudah bangun?"

Aku tidak berpikir dua kali. Aku bergegas mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, memakainya, lalu berlari keluar ruangan.

Aku lari menuruni tangga seperti buronan.

Dan di tengah aula besar, aku langsung bertemu Darius. Tampaknya dia telah terjaga semalaman untuk mencariku, matanya merah.

Dia melihatku dalam keadaan berantakan dan panik. Untuk sesaat, harapan menerangi wajahnya. "Nia, kamu sudah kembali! Aku ...."

Kata-katanya tercekat di tenggorokan.

Itu karena dia melihat pria itu perlahan mengikutiku menuruni tangga.

Dia menuruni tangga di belakangku, kemejanya setengah terbuka, memperlihatkan cakaran bekas merah membara yang ditorehkan kuku jariku di lehernya.

Wajah Darius memucat.

Dia menatap kami, suaranya bergetar tak terkendali.

"Ivania ... kenapa kamu bersama pamanku?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B43059" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B43059
Salin

Suami yang Berjanji Setia, Malah Berpaling

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya