Bab 2

Ucapan Marvin membuat seluruh aula pernikahan gaduh.

Tidak ada yang menyangka, setelah aku dengan tulus meminta dia menghentikan pernikahan untuk menyelamatkan wanita lain, Marvin malah kembali dengan permintaan yang begitu konyol.

Bahkan ibu Marvin yang selama ini tidak menyukaiku, merasa tindakan putranya itu sangat memalukan. Dengan wajah berkerut, dia memarahinya, "Marvin, jangan keterlaluan! Pernikahan itu bukan hal main-main! Bagaimana mungkin kamu mengganti mempelai wanita di detik terakhir?"

Ayah Marvin juga tampak tidak setuju. Meskipun dia tidak berbicara, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya, jelas dia sudah memiliki rencana lain di kepalanya.

Marvin juga merasa bersalah padaku. Dia memandangku dan berkata, "Aku salah padamu dalam hal ini, aku akan menebusnya padamu ke depannya."

Aula penuh dengan bisikan komentar. Banyak yang memandangku dengan simpati, tetapi ada juga yang menertawakanku, menganggap sikapku yang terlalu besar hati malah menjadi bumerang bagi diriku.

Namun, aku tak peduli. Aku menunjukkan ekspresi seolah telah menerima penghinaan besar tetapi tetap menahan diri demi menjaga nama baik keluarga Marvin. Dengan mata berkaca-kaca, aku menjawab,

"Nggak apa-apa, saat aku memutuskan untuk menyelamatkan Yoona, aku sudah siap menempatkan kebahagiaannya di atas segalanya."

Seketika, Yoona merasa tidak senang dan berkata, "Kak Marvin yang menyelamatkanku. Kalau dia nggak setuju untuk menikahiku hari ini, aku tetap akan melompat. Apa hubungannya denganmu?"

Ucapan itu membuat orang-orang yang sebelumnya merasa simpati padaku mulai membelaku.

Di tengah keramaian, saat semua orang saling berdebat, Yoona akhirnya menyadari bahwa akulah yag meminta Marvin untuk menyelamatkannya. Seketika, ekspresinya terlihat memalukan, tetapi tak lama kemudian, dia kembali bersikap sombong dan berkata,

"Kalau Kak Marvin nggak punya perasaan padaku, nggak ada gunanya juga orang lain membujuknya. Jadi intinya, ini semua karena Kak Marvin mencintaiku."

Mendengar itu, Marvin langsung marah besar. Dengan nada tajam, dia berkata, "Yoona! Kalau bukan karena hubungan baik keluarga kita, aku nggak akan peduli padamu!"

"Karena dirimu, Selly harus menanggung banyak penghinaan. Kalau kamu terus bersikap kekanak-kanakan dan mencoba memecah belah hubungan kami, kamu bisa kembali ke lantai atas sekarang juga!"

Dengan mata memerah karena kesal, Yoona masih ingin membantah. Namun saat melihat tidak ada satu pun orang di sekitarnya yang mendukungnya, dia hanya bisa menundukkan kepala dan berkata, "Maafkan aku, Kak Marvin. Aku hanya terlalu mencintaimu."

"Kalau ... kalau Selly bersedia menyerahkan pernikahan ini, ayo kita segera menikah saja. Jangan biarkan para tamu menunggu lebih lama lagi."

Ujar Marvin tampak ragu dan menoleh ke arahku. Aku tersenyum samar, turun dari panggung dan berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian.

Namun belum sampai ke ruang ganti, musik pernikahan sudah terdengar dari aula. Saat masuk ke ruang ganti, terdengar suara Yoona yeng penuh emosi sedang menyampaikan sumpahnya.

Setelah aku membersihkan riasanku dan berganti pakaian, seorang staf restoran tergesa-gesa datang dan mengatakan bahwa ada keributan di depan.

Aku buru-buru ke aula dan begitu sampai, aku melihat Marvin sedang memukuli Brian, keponakanku di lantai.

Yoona berdiri di samping dengan gaun pengantinnya yang tampak basah terkena jus buah. Dia menginjak-injak kakinya sambil berteriak marah, "Pukul dia, dasar anak rendahan ini!"

Amarahku meledak, aku berlari mendekat, menarik lengan Marvin dan berteriak, "Hentikan Marvin!"

Brian yang melihatku, memandangku dengan mata memerah dan memanggilku, "Tante."

Brian adalah satu-satunya darah daging yang ditinggalkan kakakku dan dia menjadi kelemahanku yang selalu dimanfaatkan oleh Marvin di kehidupan sebelumnya.

Akhirnya, karena merasa bersalah padaku, Brian melompat dari gedung tinggi dan mengakhiri hidupnya yang masih muda.

Aku pun jatuh dalam depresi dan tidak lama kemudian, meninggal karena penyakit kritis.

Kini, di kehidupan baru ini, melihat keponakanku hidup sehat di depanku, air mataku tak terbendung.

Namun, Marvin tidak peduli. Dengan kekuatannya, dia mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai. Seketika, rasa sakit menusuk terasa di perutku.

Tubuhku terasa dingin. Aku hampir lupa, di kehidupan sebelumnya, aku sudah hamil saat ini!

Melihatku terjatuh, Marvin akhirnya berhenti. Dia buru-buru menghampiriku untuk menopangku berdiri.

Namun, aku menepisnya dengan mata memerah. Di saat yang sama, Brian berlari ke arahku, memelukku dan menopangku sambil berkata dengan cemas, "Tante, kamu nggak apa-apa?"

Aku menggelengkan kepala dan memeluknya erat, menjawab, "Aku nggak apa-apa."

Meskipun menjawab begitu, perutku terasa sangat sakit. Aku punya firasat buruk bahwa anak ini mungkin tidak akan selamat.

Tapi sejujurnya, ini juga hal yang kuharapkan.

Meskipun sangat bersalah pada anak ini, aku tidak ingin dia lahir di lingkungan tanpa cinta, apalagi mengalirkan darah dari seseorang seperti Marvin.

Bab 3

Saat aku tertegun, ibu Yoona datang menghampiriku, dengan marah berkata, "Selly, keponakanmu menyiram putriku dengan jus! Kalau bukan karena Marvin menghukumnya, kami nggak akan membiarkannya begitu saja!"

Marvin pun buru-buru menjelaskan, "Selly, aku hanya mencoba meredakan amarah keluarga Yoona, jadi memukulnya sebagai hukuman. Tenang saja, aku nggak memukulnya terlalu keras, jadi lukanya nggak terlalu parah."

Aku menatapnya dengan penuh kebencian.

Mulut Brian bahkan sudah berdarah, wajahnya juga bengkak. Inikah yang dia maksud dengan tidak terlalu parah.

Dibawah tatapanku yang penuh kebencian, Marvin tampak sadar bahwa dirinya bersalah, hingga menundukkan kepalanya.

Aku menoleh ke arah ibu Yoona dan berkata dengan nada menyindir, "Bu, setengah jam yang lalu, putrimu masih berdiri di lantai atas dan mengancam akan bunuh diri. Akulah yang meminta calon suamiku untuk menyelamatkannya."

"Bisa dikatakan bahwa aku ini penyelamat putrimu."

"Keponakanku yang datang setelah pulang sekolah untuk menghadiri pernikahanku, mendapati mempelai wanita diganti. Dia mengira tantenya dipermalukan, jadi tak bisa menahan diri dan menyiram putrimu dengan jus sebagai bentuk protesnya."

"Menurutmu, sebagai penyelamat putriku, apakah ini pantas untukku?"

Ibu Yoona mengernyitkan kening dan ingin membantah, tapi saat melihat tatapan orang-orang sekitarnya, dia hanya mendengus kesal dan tidak berbicara lagi.

Dengan bantuan Brian, aku berdiri perlahan. Marvin yang tampak khawatir, berkata, "Selly, kenapa wajahmu pucat sekali?"

Aku mengabaikannya. Sebaliknya, aku berkata pada Brian, "Tolong panggil ambulans ... "

Brian pun segera memanggil ambulans.

Marvin tampak gelisah dan bertanya, "Kenapa memanggil ambulans? Aku hanya mendorongmu sedikit, seharusnya nggak separah itu."

Yoona menyindir, "Mungkin hanya taktik murahannya untuk membuat Kak Marvin khawatir."

Marvin mengernyit dan bertanya, "Selly, benarkah begitu? Aku nggak suka cara-cara seperti ini."

Brian yang marah, hampir saja maju untuk memukul Marvin, tetapi aku menghentikannya.

Aku berkata, "Tolong bantu aku jalan keluar."

Brian segera memapahku. Aku menahan rasa sakit di perutku dan perlahan berjalan menuju pintu hotel.

Marvin hendak menghentikanku, tapi tiba-tiba seseorang berteriak, "Bu Yoona pingsan!" Marvin langsung memalingkan perhatian ke arah Yoona dan menggendongnya sambil berkata, "Bawa dia ke rumah sakit!"

Aku menoleh, melihat Marvin yang tampak cemas di tengah kerumunan, hatiku terasa sakit.

Bahkan di saat kami sedang dalam momen bermesraan, pilihannya tetap Yoona.

Jika aku menyadari hal ini lebih awal, aku tidak akan berakhir dengan nasib yang begitu tragis di kehidupan sebelumnya.

Brian mencoba menghiburku dengan suara pelan, "Tante, jangan sedih, masih ada aku. Aku akan selalu bersamamu."

Aku menggenggam tangannya dengan hangat dan tersenyum kecil. "Tenang, tante nggak sedih."

Namun Brian tidak percaya. Dia berkata dengan marah, "Tunggu aku dewasa, aku nggak akan biarkan siapapun menyakitimu lagi."

Saat dia bicara begitu, kami telah sampai di pintu hotel.

Karena rumah sakit tidak jauh dari sini, ambulans pun tiba dengan cepat.

Namun, belum sempat aku bicara, ibu Yoona berlari keluar sambil berteriak, "Dokter, tolong selamatkan putriku! Dia pingsan!"

Lalu, aku dengan kasar didorong ke samping. Jika Brian tidak menopangku, aku pasti sudah terjatuh.

Aku menatapnya dengan tajam dan melihat Marvin keluar dengan menggendong Yoona. Saat melihatku, dia tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. Sebaliknya, dia berkata dengan nada penuh keyakinan,

"Selly, kami hanya jatuh saja, berbeda dengan Yoona. Dia pingsan dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa."

"Jadi, berikan ambulans ini untuknya. Aku akan meminta sopir untuk mengantarmu pulang dan istirahat."

Rasa sakit di perutku semakin menjadi-jadi. Aku menggelengkan kepala dan berkata, "Nggak, nggak boleh! Aku harus pergi ke rumah sakit!"

Aku tahu, Yoona pasti hanya berpura-pura. Tapi, aku tak bisa mengambil risiko dengan nyawaku sendiri.

Ibu Yoona maju mendekat dan menamparku dengan keras. Dia berteriak dengan marah, "Dasar wanita jalang! Kamu pikir kamu punya hak untuk bersaing dengan putriku?"

Brian mencoba melawan, tetapi langsung ditekan oleh para pengawal.

Aku juga terjatuh ke lantai. Rasa sakit yang hebat membuat tubuhku bergetar. Aku memohon dengan mata penuh harap kepada Marvin.

Dia menghindari tatapanku dan berkata, "Tante hanya terlalu khawatir dengan Yoona. Selly, ini masalah nyawa, kamu nggak seharusnya bersikap cemburu di saat seperti ini."

Orang-orang di sekitarku juga mulai mencelaku, mengatakan bahwa niatku untuk menyuruh Marvin menyelamatkan Yoona sebelumnya hanya pura-pura.

Marvin kemudian menggendong Yoona melewatiku dan masuk ke ambulans.

Sebelum pergi, dia menatapku dan berkata, "Selly, kamu orang yang baik hati, aku yakin kamu akan memahami pilihanku, 'kan?"

Tanpa menunggu jawabanku, dia masuk ke dalam ambulans dan pergi.

Melihat ambulans itu menjauh, aku berteriak penuh emosi, "Marvin, kamu benar-benar bajingan!"

Tiba-tiba, seseorang menunjuk ke arah kakiku dan berteriak panik, "Lihat! Darah ... ada banyak darah!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B92757" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B92757
Salin

Penyesalan Suamiku Setelah Kehilangan Diriku

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya