Bab 2
Aku dengan mata berkaca memohonnya.
"Enggak, dulu saat aku hamil ASI nya sudah banyak. Sekarang anakku sudah tidak ada, ASI nya tidak juga berkurang, pasti cukup diminum."
"Iya kah?"
Pemburu mengernyutkan alisnya yang tebal hitam, setengah percaya, setengah meragukan.
Dia ragu dan menggunakan tangannya memegang, kakiku lemas, tetapi hanya bisa kutahan. Kemudian, dia menunduk, membuat aku merasa merinding.
"Jangan......"
Ini tenaganya lebih kuat dari anak bayi.
Dia dengan tidak jelas berkata, "Harus coba baru bisa tahu."
ASI yang tidak habis untuk anak bayi, sangat cepat sudah habis.
Aku jatuh lemas tanpa tenaga di dalam pelukannya, sebenarnya harus merasa malu, tetapi tubuhku malah ada rasa yang aneh.
Aku menjepit kedua kakiku, takut dia menyadari sesuatu.
Pertama kali ASI bahkan setetes pun nggak ada, tetapi orang tersebut masih tidak puas, mengangkat kepala dan menjilat bibirnya.
"ASI yang hanya begini saja, beraninya bilang banyak."
Dia menamparku.
"Plak!"
Tenaganya tidak kuat, tetapi seperti pukul di wajahku. Rasa yang sakit dan gatal, dalam hatiku ingin lebih banyak lagi.
Rose Rose, kenapa kamu jadi begini?
Apakah karena kesepian terlalu lama?
Dalam hatiku merasa sedih, tetapi aku mengiggit bibirku dan tidak berani bicara.
Karena tidak pernah banding dengan orang lain, aku juga tidak pasti apakah ini benaran hanya sedikit?
Karena kelakuannya, aku hanya bisa menerimanya.
Menghabiskan 4 juta membeli ibu susu yang ASI nya tidak banyak, memberi makan ke satu orang lagi, bukan hal yang tidak bisa diterima.
Untungnya pemburu tidak melakukan apa-apa lagi, aku menghela nafas, berpikir sejenak dan tidak menggunakan pakaian dalam.
Setelah membereskan pakaian, pemburu pergi memasak.
Aku dengan hati-hati melihat di samping, mencium bau daging di dalam panci, perutku mulai bersuara.
Aku malu sekali.
Semenjak menikah sama suami, aku hanya bisa mencium sedikit bau minyak yang dimasak untuk ibu mertua dan adik ipar saat tahun baru.
Kondisi tubuhnya tidak baik, tidak bisa pergi berladang, apalagi berburu di gunung.
Di rumah semuanya serba kekurangan, dan tidak ada yang bisa dilakukan.
Pemburu itu tertawa sedikit, "Pergi ke sana duduk, tunggu makan."
Apa maksudnya ini...
Apakah aku juga ada bagiannya?
Aku gelisah, tidak pernah ada pengalaman melihat orang lain memasak. Tetapi dia sendiri melakukannya dengan teratur, aku sama sekali tidak tahu harus membantu di mana.
"Aku masak biasa saja, cobalah untuk dimakan."
Dia menyajikan nasi, lalu mendorong daging dan sayuran di dalam mangkuk ke arahku.
Akhirnya aku bisa yakin bahwa itu untukku, perlahan menelan air liur, sesekali memerhatikan gerak-geriknya dan mulai makan.
Meskipun dia bisa memukulku sampai mati, setidaknya sebelum mati aku harus merasakan dagingnya.
Benar-benar daging, gerakanku saat mengambilnya semakin cepat tanpa sadar, rasanya seperti yang pernah kucoba sebelum menikah.
Setelah menghabiskan nasi, aku baru sadar seberapa besar nafsu makanku. Dengan marah aku ingin memukul mulutku sendiri, tapi aku tidak bisa menipu perutku yang kenyang dan nyaman.
"Makan gini saja?" Pemburu mengernyutkan alisnya, "Tidak makan lebih banyak yang minyak, bagaimana kamu bisa ada ASI?"
Yang dia tahu juga sangat banyak.
Suaraku kecil seperti nyamuk, "Aku sudah makan banyak."
Dia tidak percaya, dalam beberapa suapan, nasi ketiganya habis. Memegang aku dan memasukkan tangannya ke dalam bajuku, aku terkejut dan takut, lalu aku baru sadar dia sedang memegang perutku.
Dia dengan terpaksa mengangguk kepala, "Lumayan."
Tangannya masih belum pergi, dengan tidak rela melihat apakah payudara mengeluarkan ASI baru mengeluarkan tangannya.
Aku melihat dia mencium tangannya.
"Wanita itu memang wangi." Dia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih seperti gading. "Terutama janda muda."
Bab 3
Dia membawa alat-alat berburu dan keluar untuk berburu, sementara aku ditinggalkan di rumah.
Selain pintu tempat anak, semua tempat di rumah ini tidak terkunci. Barang-barang berharga dan berbagai daging yang belum diproses dibiarkan begitu saja di lantai, tampak seolah-olah mudah untuk aku ambil.
Jika aku ingin melarikan diri, ini adalah kesempatan yang baik.
Tapi aku ragu, aku ini seorang janda muda yang lemah, seberapa jauh bisa aku lari?
Belum lagi, jika orang-orang di desa punya niat jahat, aku tidak akan punya jalan hidup.
Sedangkan pemburu itu meskipun sering melakukan hal-hal yang kasar, tetap memperlakukanku seperti manusia.
Aku menghela napas, lalu mulai merapikan barang-barang yang berserakan di seluruh rumah.
Setelah sibuk sepanjang hari, hingga matahari hampir terbenam, pemburu itu baru kembali membawa dua ayam hutan.
Begitu masuk, dia terkejut, "Ini... ini semua kamu yang lakukan? Rasanya bukan rumahku lagi."
Aku memijat pinggang, memang, tempat tinggal pria lajang memang berantakan.
Aku memberinya beberapa uang yang aku kumpulkan dari berbagai tempat, dan harus diakui, aku belum pernah melihat orang yang begitu tidak peduli dengan uang.
Dia menolak, "Ambil saja, belanjakan untuk dirimu."
Keranjang di punggungnya diletakkan, dan aku melihat ada beberapa kelinci liar di dalamnya.
Dia kira aku suka, “Ini buat kamu supaya ada ASI. Kalau kamu mau pelihara untuk bermain juga boleh.”
Aku dengan takut menggelengkan kepala.
Hari cepat gelap, dan aku memberi makan anak sekali lagi.
Saat waktunya tidur, aku baru sadar, hanya ada dua tempat tidur yang bisa dipakai. Anak menggunakan satu, jadi aku hanya bisa tidur dengannya.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Alisnya terangkat, "Janda muda, kenapa kamu tidak datang tidur?"
Aku terkejut dengan tatapan matanya yang garang, dan akhirnya dengan takut-takut masuk ke dalam selimut.
Tidak berapa lama kemudian, tangannya mulai tidak diam, dengan paksa menegakkan tubuhku. Tangan besarnya mulai masuk dari depan payudara, dengan gampang menyobek bajunya.
"Jangan!"
Perlawananku sama sekali tidak berguna, dia menindihku seperti batu yang besar dan berat.
Kepala yang berbulu mulai menunduk, mulut yang penuh dengan jenggot menusukku hingga kesakitan. ASI sudah habis masih belum selesai, jarinya yang kasar memulai lagi.
"Jangan menangis janda muda." Dia dengan tidak sabar melepaskan sedikit, "Aku ini bantu kamu lancarkan ASI, sekarang ASImu terlalu sedikit, tidak cukup untuk menyusui, kalau tidak besarkan sedikit, apa gunanya beli kamu?"
Apakah dengan ini bisa jadi lebih besar dan ASI jadi lebih banyak?
Aku ragu dan mulai tidak melawannya lagi, biarkan dia melakukannya.
Kerjasamaku membuatnya tersenyum, wajahnya yang kasar itu terlihat jadi cukup tampan, gerakannya juga jadi lebih berusaha.
Awalnya masih sakit, lalu seperti dipijat, perlahan-lahan menjadi nyaman, bahkan tidak mau henti.
Kedua kaki menjadi tidak nyaman dan mulai berdempetan, aku mengiggit bibir baru menahan suara desahan yang hampir keluar.
Dia tidak ada maksudnya, bagaimana aku bisa secabul gitu?
Perlahan-lahan, aku merasakan ada barang yang keras menindih perutku.
Aku menyadarinya, awalnya mengira adalah kelaminnya, tetapi teringat kelemahan suami, aku mulai meragukan diri.
Mungkin adalah barang yang lain.
Wajah pemburu mulai keringatan karena capek, jarinya yang kasar sama sekali tidak berhenti. Dia melihatku, aku baru menyadari kalau wajah aku yang ada di dalam matanya sangatlah merah, baju terbuka setengah, membiarkannya bertindak sesuka hati.
"Janda muda, apa baiknya suamimu itu?" Dia tersenyum sinis, "Lebih baik ikut aku saja, setiap hari seperti hari ini."
Aku buruan menggelengkan kepala, "Mau seburuk apapun dia, tetap suamiku."
Tatapan pemburu menjadi dalam, tangannya entah sejak kapan sudah ada di tali pinggangku.
Aku belum menyadari bahaya, tapi duluan mendengar suara tangisan.